NATUNA — Peralihan status dari Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) menjadi Institut Agama Islam (IAI) Natuna membawa konsekuensi pada tata kelola kampus. Posisi pimpinan kini diemban seorang rektor yang dibantu tiga wakil rektor, masing-masing dengan bidang tugas tersendiri.
Rektor IAI Natuna, Dr. H. Umar Natuna, S.Ag., M.Pd.I., menjelaskan bahwa perubahan nomenklatur kelembagaan berjalan seiring dengan penyesuaian struktur organisasi di bawahnya. Penyesuaian itu mencakup pembagian tugas wakil rektor, biro, fakultas, program studi, hingga lembaga pendukung.
Dalam struktur baru, Wakil Rektor I membidangi akademik dan sumber daya manusia. Wakil Rektor II menangani administrasi, perencanaan, dan keuangan. Adapun Wakil Rektor III membidangi kemahasiswaan, alumni, dan kerja sama.
Di bawah jajaran wakil rektor terdapat dua biro utama, yakni Biro Akademik dan Kerja Sama serta Biro Administrasi Umum. IAI Natuna juga menaungi tiga fakultas dan tujuh program studi.
Ketiga fakultas tersebut adalah Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan, Fakultas Syariah, Usuluddin, dan Dakwah, serta Fakultas Ekonomi dan Bisnis Syariah.
"Secara kelembagaan kan dari ketua sekolah tinggi jadi institut. Jadi, ketika institut jabatannya rektor. Kemudian di bawah rektor itu ada pembantu rektor. Pembantu rektor satu bidang akademik dan sumber daya manusia," kata Umar di ruang kerjanya, Senin (21/9/2026).
Sejumlah lembaga struktural diperkuat, antara lain Lembaga Penjaminan Mutu (LPM), Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM), serta UPT Perpustakaan. Lembaga nonstruktural meliputi Pusat Bahasa dan Al-Qur'an, Pusat Kajian Islam, Tamadun Melayu dan Geopark, Pusat Inkubasi Bisnis, serta Halal Center.
"Di bawah fakultas itu ada prodi. Kita ada tujuh prodi. Nah, setelah itu ada lembaga struktural dan lembaga nonstruktural," sebut Umar.
IAI Natuna menetapkan standar akademik dan nonakademik bagi lulusannya. Untuk standar akademik, mahasiswa ditargetkan memiliki Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) di atas 3,00, disertai penguasaan kemampuan teoritis sesuai bidang keilmuan serta kemampuan manajerial.
Standar nonakademik diarahkan pada penguasaan keahlian khusus. Mahasiswa dipersiapkan memiliki kemampuan di bidang agama, kebudayaan lokal atau Tamadun Melayu, serta kewirausahaan berbasis potensi daerah.
"Karena mereka hidup di masyarakat dan bersentuhan langsung dengan masyarakat. Jadi keterampilan-keterampilan di bidang pantun, di bidang gurindam, syair, tari, menari dan seterusnya harus mereka pilih salah satu keahlian apa yang mereka ingin tekuni. Yang ketiga adalah entrepreneur atau kewirausahaan," lanjutnya.
Proses pembelajaran diarahkan memakai pendekatan integratif dan interkonektif. Pengetahuan, karakter, dan keterampilan mahasiswa tidak dikembangkan terpisah, melainkan menjadi satu kesatuan dalam capaian lulusan.
Selain membenahi struktur, IAI Natuna membentuk tim peneliti beranggotakan enam orang. Tim itu diarahkan pada dua fokus utama, yakni pengembangan ilmu dan penelitian kebijakan (policy research).
Penelitian kebijakan diharapkan menghasilkan kajian yang menjadi rujukan bagi pengambil kebijakan daerah. Salah satu contoh yang disebut Umar adalah penelitian soal stunting untuk mengetahui akar masalah secara lebih mendalam.
"Hasil penelitian kebijakan dari kampus ini diharapkan dapat menjadi rujukan ilmiah bagi pengambil kebijakan di daerah, misalnya dalam memetakan akar masalah stunting atau merumuskan desain pemberdayaan masyarakat Natuna secara berkelanjutan," ujarnya.
Penelitian juga diarahkan mengkaji persoalan pemberdayaan masyarakat Natuna. Menurut Umar, diperlukan kajian lebih terarah agar program pemberdayaan tidak berjalan sporadis tanpa desain dan data yang memadai.
Mahasiswa dari berbagai semester diperbolehkan terlibat dalam kegiatan penelitian sesuai kemampuan dan bidang keilmuan masing-masing. Mereka memperoleh pengalaman memahami metode penelitian, menyusun desain, hingga membuat instrumen penelitian.
Kemampuan itu diharapkan terpakai ketika mahasiswa menyusun program organisasi berdasarkan kebutuhan dan minat yang diperoleh melalui survei.