Pemkot Tanjungpinang melalui Dinas Pertanian Pangan dan Perikanan (DP3) mulai mendorong Gerakan Tanjungpinang Ajak Jaga Pangan (Tanjak Pangan) untuk mengurangi pemborosan pangan di kota itu. Data awal pilot project di SMA Negeri 1 Tanjungpinang selama delapan hari menunjukkan rata-rata sisa pangan mencapai 139 gram per orang per hari, dengan protein menjadi komponen sisa terbesar. Gerakan ini mengusung pesan "Pangan Berharga, Jangan Disia-siakan" dan Love Food, Don't Waste It.
TANJUNGPINANG — Kepala DP3 Tanjungpinang Robert Lukman menyatakan gerakan ini mengajak masyarakat membangun kebiasaan bijak dalam mengelola pangan, dimulai dari lingkungan keluarga hingga dunia usaha. Menurutnya, sisa pangan masih ditemukan di berbagai lingkungan, mulai dari rumah tangga, sekolah, hotel hingga restoran.
Kondisi tersebut antara lain dipengaruhi kebiasaan memasak atau membeli makanan secara berlebihan, lalu makanan yang tidak dihabiskan, ketidaksesuaian porsi dan menu, serta belum optimalnya pemilahan dan pemanfaatan pangan yang masih layak.
Berdasarkan data awal pilot project di SMA Negeri 1 Tanjungpinang selama delapan hari, rata-rata sisa pangan mencapai 139 gram per orang per hari. Protein menjadi komponen sisa terbesar dalam pengamatan tersebut.
Sementara pada rumah tangga, rata-rata sisa pangan tercatat 95,9 gram per orang per hari. Pengamatan pada sektor hotel dan restoran juga menunjukkan pencatatan sisa pangan dapat menjadi bahan evaluasi bagi pelaku usaha, khususnya dalam menyesuaikan menu, porsi, produksi, serta pemanfaatan pangan.
"Gerakan ini mengajak masyarakat membangun kebiasaan bijak dalam mengelola pangan, dimulai dari lingkungan keluarga hingga dunia usaha," kata Robert Lukman.
Melalui Gerakan Tanjak Pangan, masyarakat diajak melakukan langkah sederhana, seperti merencanakan belanja, membeli dan memasak sesuai kebutuhan, mengambil makanan secukupnya, menyimpan pangan dengan benar, mengolah kembali pangan yang masih layak, serta menyalurkannya kepada masyarakat yang membutuhkan sesuai ketentuan.
Gerakan ini menerapkan pendekatan "Catat, Analisis, Cegah, Selamatkan, dan Laporkan". Data sisa pangan yang terkumpul selanjutnya menjadi bahan monitoring dan evaluasi sekaligus mendukung pengambilan kebijakan dalam memperkuat ketahanan pangan di Kota Tanjungpinang.
Dalam pelaksanaannya, setiap unsur memiliki peran masing-masing. Pemerintah daerah memperkuat kebijakan dan koordinasi, PKK serta RT/RW melakukan edukasi kepada keluarga dan masyarakat.
Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mendukung pengelolaan sisa organik, sementara Diskominfo mendukung kampanye dan publikasi. Hotel, restoran, katering, dan pelaku pariwisata didorong untuk mengurangi sisa pangan dari aktivitas usahanya.
"Data sisa pangan yang terkumpul selanjutnya menjadi bahan monitoring dan evaluasi sekaligus mendukung pengambilan kebijakan dalam memperkuat ketahanan pangan di Kota Tanjungpinang," ujarnya.
Robert berharap Gerakan Tanjak Pangan tumbuh menjadi gerakan kolaboratif yang dimulai dari keluarga, sekolah, tempat kerja, dunia usaha, hingga lingkungan masyarakat. Dengan perubahan kebiasaan sehari-hari, upaya mengurangi pemborosan pangan sekaligus memperkuat ketahanan pangan dapat dilakukan secara berkelanjutan.
"Mulai hari ini, mulai dari piring kita. Kalau bukan sekarang, kapan lagi. Kalau bukan kita, siapa lagi," demikian Robert.