KEPULAUAN RIAU — Direktur PT Bayan Resources Tbk (BYAN) Alastair Gordon Christopher Mcleod melepas 185.200 saham perseroan pada 21 September 2026 dengan harga Rp 13.352 per saham, meraup dana sekitar Rp 2,47 miliar. Transaksi ini muncul di tengah manuver Haji Isam yang tengah mengincar 30% saham emiten batu bara milik Low Tuck Kwong tersebut.
Paragraf pembuka: Berdasarkan keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia, Alastair menjual sahamnya secara langsung. Sebelum transaksi, ia menggenggam 4 juta saham BYAN atau setara 0,01% dari total modal ditempatkan. Setelah pelepasan, kepemilikannya menyusut menjadi 3.814.800 saham.
Laporan transaksi menyebut harga jual Rp 13.352 per saham. Angka tersebut terbilang premium jika dibandingkan harga penutupan BYAN pada perdagangan Selasa (22/9) yang anjlok 9,71% ke Rp 11.850.
Tekanan di Pasar Saham BYAN
Kapitalisasi pasar BYAN saat ini berada di kisaran Rp 395 triliun. Dalam sepekan terakhir, saham emiten tambang batu bara ini justru melesat 16,18%. Namun secara year to date, posisinya masih tertekan 24,52%.
Fluktuasi tajam bukan hal baru bagi BYAN. Senior Research Analyst Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Fauzan Luthfi Djamal, mencatat saham BYAN sempat terbang sekitar 35% dari Rp 10.200 pada 15 September menjadi Rp 13.825 pada 18 September. Pola serupa terjadi pada 18 Agustus ketika saham menyentuh Rp 17.275 atau naik 43,66% dalam sepekan, sebelum akhirnya anjlok 14,9% ke Rp 14.700 setelah manajemen menepis rumor yang beredar.
"Pola pergerakan yang cepat berbalik atau whipsaw itu perlu dicermati pelaku pasar," kata Fauzan.
Selisih Valuasi Akuisisi Haji Isam
Manuver Andi Syamsudin Arsyad alias Haji Isam untuk menguasai 30% atau 10 miliar saham BYAN menyisakan pertanyaan besar soal harga. Fauzan menghitung nilai akuisisi berdasarkan harga rata-rata 90 hari terakhir mencapai Rp 126,4 triliun atau sekitar US$ 7 miliar.
Angka itu jauh berbeda dengan harga transaksi yang sebelumnya beredar, yakni US$ 3 miliar untuk seluruh 62,25% saham. Jika diprorata ke porsi 30%, nilainya hanya sekitar Rp 25,4 triliun atau US$ 1,4 miliar alias 80% lebih rendah dari basis 90 hari perdagangan.
"Gap ini sempat narik perhatian pasar, karena harga transaksi yang sebelum ada MoU ambil 30% jauh di bawah semua basis harga pasar, termasuk harga penutupan sehari sebelum pengumuman resmi," ujar Fauzan saat dihubungi Katadata, Senin (21/9).
Bayang-Bayang Force Majeure dan Pemangkasan Outlook
Tekanan fundamental datang dari sisi operasional. Moody's pada 18 September memangkas outlook BYAN menjadi negatif, sementara peringkat Corporate Family Rating tetap di level Ba1. Langkah ini menyusul pernyataan force majeure BYAN pada 14 September terkait RKAB 2026 yang belum disetujui untuk tiga anak usahanya.
Fauzan memperkirakan produksi BYAN pada 2026 berpotensi anjlok menjadi 39 juta ton dari 68 juta ton pada 2025 jika tidak ada