Sikka – Sebanyak 481 unit dari total 495 prasarana air bersih yang terdampak gempa di Kabupaten Sikka mengalami kerusakan berat. Angka ini menjadi sorotan utama dalam upaya percepatan pemulihan akses air bersih dan sanitasi bagi warga Pulau Palue, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang tengah digencarkan Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Kementerian PU membuka peluang kerja sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Salah satu teknologi yang dijajaki adalah konversi air laut menjadi air tawar, sebuah langkah yang dinilai lebih efektif dan efisien untuk mengatasi krisis air di wilayah kepulauan.
Gagasan itu disampaikan Menteri Dody dalam Rapat Koordinasi (Rakor) bersama Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena, Bupati Sikka Juventus Prima Yoris Kago, serta jajaran Pemerintah Kabupaten Sikka dan seluruh balai Kementerian PU di NTT, Jumat (23/8) malam.
“Saya sudah kontak Kepala BRIN, siapa tau mereka punya teknologi apapun untuk mengkonversi air laut itu menjadi tawar. Itu menurut saya akan jauh lebih efektif dan efisien,” ujar Dody Hanggodo.
Kondisi geografis Pulau Palue yang relatif kecil dan keberadaan gunung berapi aktif menjadi kendala utama dalam pencarian sumber air bersih. Menteri Dody mengakui kompleksitas ini membutuhkan penanganan khusus, namun ia menegaskan komitmennya untuk terus berupaya maksimal.
“Saya sudah perkirakan, ini kan pulau tidak terlalu besar, kemudian saya juga terinfokan ada gunung berapi yang lumayan masih aktif, jadi saya sudah bayangkan bahwa itu akan susah mencari sumber air bersih. Tapi kita akan terus upayakan. Nanti kita yang jungkir balik untuk mencari apapun supaya teman-teman kita di Palue itu tetap merasa bagian dari NKRI,” kata Menteri Dody.
Kerusakan infrastruktur air bersih menjadi tantangan besar pascagempa di Kabupaten Sikka. Selain air bersih, gempa juga merusak 371 prasarana sanitasi, dengan 302 unit di antaranya mengalami kerusakan berat, terutama fasilitas mandi, cuci, dan kakus (MCK) milik warga di Kecamatan Palue.
Untuk infrastruktur air bersih milik Perumda di wilayah daratan yang rusak ringan dan sedang, perbaikan telah dilakukan. Sementara di Kecamatan Palue, kerusakan terparah terjadi pada Bak Penampung Air Hujan (BPAH) milik masyarakat.
Menurut Menteri Dody, percepatan pemulihan infrastruktur dasar ini merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto agar masyarakat terdampak bencana segera bangkit dan menjalani kehidupan normal kembali.
“Kami melaksanakan ini karena arahan dan dukungan penuh dari Bapak Presiden Prabowo Subianto, kita hanya membantu mewujudkan apa-apa yang beliau inginkan, sehingga warga yang terdampak bencana itu bisa secepatnya tersenyum,” tuturnya.
Dengan perbaikan infrastruktur sumber daya air dan sanitasi yang dipercepat, serta penjajakan teknologi konversi air laut menjadi air tawar, Kementerian PU berharap kebutuhan dasar warga Pulau Palue dapat segera dipulihkan. Upaya ini diharapkan tidak hanya menjadi solusi darurat, tetapi juga memberikan infrastruktur yang berkelanjutan bagi masa depan warga setempat.