KEPULAUAN RIAU — Kurs dolar Amerika Serikat di perbankan nasional kembali bergerak turun pada hari ini. Di BCA, misalnya, dolar AS dibanderol Rp 16.165 untuk kurs jual dan Rp 15.985 untuk kurs beli. Artinya, rupiah menguat tipis dibanding posisi sehari sebelumnya.
Bank Mandiri juga tak ketinggalan. Harga jual dolar AS di bank pelat merah ini berada di level Rp 16.200, sementara harga belinya Rp 16.000. Selisih 200 poin ini jadi catatan penting bagi nasabah yang hendak menukar valas dalam jumlah besar.
Hal serupa terjadi di BRI. Bank dengan fokus segmen UMKM ini memasang kurs jual dolar AS di Rp 16.190 dan kurs beli di Rp 15.990. Sementara BNI, kurs jual tercatat Rp 16.175 dan kurs beli Rp 15.975.
Penguatan rupiah di hari ini tak lepas dari sentimen eksternal. Indeks dolar AS yang sempat perkasa mulai kehilangan momentum setelah data ekonomi Amerika Serikat dirilis lebih rendah dari ekspektasi pasar. Pelaku pasar global pun mulai beralih ke aset emerging market, termasuk Indonesia.
Di sisi domestik, aliran modal asing yang masuk ke pasar Surat Berharga Negara (SBN) pekan ini turut menopang pergerakan rupiah. Bank Indonesia sendiri terus berada di pasar untuk menjaga stabilitas, terutama saat volatilitas meningkat.
Bagi importir, pelemahan dolar AS bisa jadi angin segar. Biaya pembelian bahan baku dari luar negeri berpotensi turun, terutama yang menggunakan letter of credit (L/C) dalam dolar. Sementara bagi eksportir, situasi ini justru perlu dicermati karena penerimaan dalam dolar akan mengecil jika dikonversi ke rupiah.
Nasabah perorangan yang punya rencana liburan ke luar negeri atau biaya pendidikan anak di luar negeri juga bisa memanfaatkan momen ini. Membeli dolar saat kurs jual sedang rendah bisa menghemat pengeluaran hingga ratusan ribu rupiah untuk setiap transaksi seribu dolar.
Meski hari ini rupiah perkasa, volatilitas masih bisa terjadi kapan saja. Pasar menunggu pidato pejabat The Fed pekan depan yang bisa mengubah arah ekspektasi suku bunga. Para pengamat menyarankan masyarakat tidak melakukan aksi borong dolar secara berlebihan, melainkan membeli sesuai kebutuhan riil.
Untuk transaksi di atas Rp 100 juta, beberapa bank mewajibkan nasabah menunjukkan bukti transaksi atau surat keterangan asal dana. Kebijakan ini sesuai aturan Bank Indonesia untuk mencegah pergerakan dolar yang tidak wajar.
Penguatan rupiah hari ini setidaknya memberi napas lega bagi perekonomian domestik. Namun, stabilitas jangka panjang tetap bergantung pada fundamental ekonomi nasional dan kebijakan moneter global ke depan.