KEPULAUAN RIAU — Rencana penutupan PT INTI, BUMN telekomunikasi yang bermarkas di Bandung, Jawa Barat, akhirnya mendapat kepastian dari pihak Danantara. Chief Operating Officer (COO) Danantara Dony Oskaria menegaskan bahwa proses penilaian tengah berjalan, dan yang terpenting, nasib para pekerja tetap aman.
"Oh, nggak ada (PHK). Pekerjanya aman. Kan kita udah bilang, kan. Semua nggak ada yang di-PHK," ujar Dony saat ditemui di gedung DPR RI Jakarta, Senin (5/5/2026).
PT INTI bukan satu-satunya BUMN yang masuk daftar evaluasi. Dony sebelumnya mengungkapkan bahwa perusahaan yang terus mengalami tekanan bisnis dan sulit diselamatkan akan menghadapi opsi pembubaran. "Kalau di Bandung itu ada PT INTI yang sangat terkenal, sekarang menghadapi persoalan, mungkin akan kita tutup juga," katanya dalam Jogja Financial Festival (Finfest) 2026, Jumat (22/5/2026).
Menurut Dony, salah satu akar masalah utama BUMN selama ini adalah tidak adanya sistem terintegrasi antarperseroan. Akibatnya, perusahaan yang sehat sulit membantu yang bermasalah. "BUMN sebelumnya itu berdiri sendiri-sendiri. Ini yang banyak orang tidak tahu," jelasnya.
Hingga saat ini, Danantara bersama BP BUMN telah menata 180 perusahaan di bawah payung BUMN melalui berbagai skema. Mulai dari konsolidasi, restrukturisasi, divestasi, hingga pembubaran. Langkah ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat transformasi BUMN agar lebih efektif, efisien, dan fokus pada bisnis inti.
"Streamlining BUMN harus memastikan setiap perusahaan fokus pada bisnis inti, memiliki tata kelola yang kuat, dan mampu memberikan nilai tambah yang nyata bagi negara dan masyarakat," tegas Dony.
Kepastian tidak adanya PHK setidaknya meredakan kekhawatiran ribuan pekerja PT INTI yang selama ini gamang dengan masa depan perusahaan. Meski begitu, proses penutupan tetap memerlukan waktu untuk verifikasi dan assessment menyeluruh. "Sedang dilakukan assessment, sedang dicek sebagaimana yang saya sampaikan mengenai streamline," ujar Dony.
Penataan ini bukan sekadar mengurangi jumlah perusahaan, melainkan memperkuat fondasi BUMN secara fundamental. Dengan struktur yang lebih ramping dan fokus, BUMN ditargetkan mampu bersaing secara profesional, kompetitif di pasar, serta memberikan kontribusi riil bagi kas negara.
PT INTI sendiri merupakan salah satu BUMN legendaris di sektor telekomunikasi. Namun, tekanan bisnis dan perubahan teknologi yang cepat membuatnya sulit bertahan. Kini, dengan pendekatan baru Danantara, nasib perusahaan-perusahaan serupa akan terus dievaluasi secara ketat.