BATAM — Dinas Sosial dan Pemberdayaan Masyarakat (Dinsos PM) Kota Batam mencatat mayoritas ODGJ telantar yang ditemukan di wilayahnya berasal dari luar daerah. Kepala Dinsos PM Batam Zulkifli Aman menyebutkan, dari 58 klien yang ditangani sejak Januari hingga Mei 2026, hanya sebagian kecil yang memiliki identitas sebagai warga Batam dan masih memiliki keluarga di kota tersebut.
“Untuk penyandang disabilitas mental atau ODGJ dari Januari sampai Mei 2026 sudah ditangani sebanyak 58 klien,” ujar Zulkifli di Batam, Selasa.
Rujukan ke Tiga Rumah Sakit
Dinsos PM Batam merujuk para ODGJ telantar ke tiga fasilitas kesehatan, yaitu RSUD Embung Fatimah, RS Badan Pengusahaan (RSBP) Batam, dan RS Jiwa dan Ketergantungan Obat (RSJKO) Bintan. Proses penanganan meliputi perawatan medis dan rehabilitasi lanjutan.
Selain ODGJ, Dinsos PM juga memfasilitasi pemulangan orang terlantar ke daerah asal. Hingga Mei 2026, tercatat 17 orang telah dipulangkan, mayoritas berasal dari Sumatera Utara dan Jawa Barat.
Pembinaan untuk Pengamen dan Manusia Silver
Zulkifli menambahkan, penanganan terhadap penyandang masalah kesejahteraan sosial (PPKS) seperti pengamen, manusia silver, dan gelandangan dilakukan melalui pembinaan sosial di Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Nilam Suri. Kelompok ini dirujuk ke UPTD tersebut untuk mendapatkan pembinaan lebih lanjut.
“Untuk penanganan pengamen, manusia silver, dan gelandangan, Dinsos PM Batam melakukan pembinaan dengan merujuk ke UPTD Nilam Suri dan mereka menjadi klien disana,” ujarnya.
Langkah Pemkot Selanjutnya?
Pemkot Batam belum merinci rencana jangka panjang untuk menekan angka ODGJ telantar di wilayahnya. Namun, data menunjukkan bahwa tingginya jumlah ODGJ dari luar daerah menjadi tantangan tersendiri bagi dinas sosial setempat dalam hal koordinasi pemulangan dan penanganan medis.