KEPULAUAN RIAU — Korban tewas akibat bentrokan fisik antarwarga di Pulau Adonara, Kabupaten Flores Timur, NTT, bertambah. Kapolres Flores Timur AKBP Adhitya Octorio Putra mengonfirmasi tiga orang meninggal dunia dalam peristiwa yang terjadi sekitar pukul 06.30 Wita, Sabtu (18/7).
Kronologi dan Kendala Penanganan
Bentrokan melibatkan kelompok pemuda dari Desa Narasosina dan Dusun Bele, Desa Waiburak. Belasan rumah dilaporkan ikut terbakar saat kerusuhan terjadi, berdasarkan informasi yang dihimpun dari lokasi kejadian.
Polisi baru tiba di tempat kejadian perkara (TKP) pada pukul 09.00 Wita, sekitar dua setengah jam setelah bentrokan pecah. Keterlambatan ini disebabkan oleh kendala geografis: personel harus menyeberang dari Larantuka ke Pulau Adonara menggunakan transportasi laut.
Identifikasi Korban dan Upaya Antisipasi
AKBP Adhitya menyatakan pihaknya masih melakukan pendalaman penyebab kematian dan identitas para korban. "Kalau korban masih dicek dan masih didalami penyebab kematiannya dan juga identitasnya," ujarnya saat dikonfirmasi.
Untuk mengantisipasi bentrokan susulan, Polres Flores Timur telah menambah personel di sekitar lokasi konflik. "Sudah ada penebalan personil dari Polres Flores Timur, digeser untuk mempertebal pengamanan mengantisipasi terjadi konflik susulan," jelas Adhitya.
Penyebab Bentrokan Masih Misteri
Hingga berita ini diturunkan, polisi belum menemukan penyebab pasti pemicu bentrokan antar dua kelompok pemuda tersebut. "Penyebab masih dalam lidik, belum diketahui secara pasti," kata Kapolres.
Peristiwa berdarah ini menambah daftar panjang konflik horizontal antarwarga di wilayah kepulauan NTT yang kerap dipicu oleh sengketa lahan, batas wilayah, atau persoalan adat. Akses geografis yang sulit kerap menjadi kendala utama aparat dalam merespons cepat situasi darurat di daerah terpencil.