KEPULAUAN RIAU — Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan, struktur biaya produksi dan distribusi Minyakita saat ini sudah tak masuk akal secara ekonomi. "Enggak mungkin dia jual Rp15.700 (per liter) kalau harga CPO-nya aja sekarang sudah Rp15.500 per kilogram," ujarnya di Kantor Kemendag, Jakarta, Kamis (4/7).
Dulu, saat HET Rp15.700 per liter ditetapkan, harga CPO masih di level Rp12.400 per kg. Kini, selisih harga itu sudah terbalik. Produsen bahkan harus membeli minyak sawit dari distributor seharga Rp13.500 per kg, sementara harga CPO di pasar sudah tembus Rp15.400 per kg. "Artinya nombok, kan?" tegas Budi.
Selain harga bahan baku, pemerintah juga mencatat adanya kenaikan biaya kemasan. Kondisi ini makin memberatkan pelaku usaha yang sudah terjepit di tengah fluktuasi harga komoditas.
Oleh karena itu, Kementerian Perdagangan tengah menghitung ulang harga keekonomian Minyakita. Tujuannya, agar rantai distribusi dari produsen hingga pengecer tetap berjalan tanpa membebani salah satu pihak.
Meski sudah sepakat menaikkan HET, pemerintah belum memutuskan besaran kenaikannya. Budi beralasan, harga CPO dan tandan buah segar (TBS) masih bergerak fluktuatif. "Kemarin harga TBS sempat turun, sekarang sudah mulai naik lagi. Kita akan lihat sampai harganya stabil, baru ditetapkan berapa angka kenaikannya," jelasnya.
Budi memperkirakan keputusan final bisa diumumkan dalam satu hingga dua minggu ke depan. "Apabila harga relatif normal, segera kita lakukan penyesuaian," tutupnya.