KEPULAUAN RIAU — Duta Besar Jerman untuk Indonesia, Ralf Beste, mengonfirmasi agenda kunjungan tersebut dalam keterangan resmi yang diterbitkan Minggu (14/6). "Pesan utama dari kunjungan ini jelas. Jerman adalah mitra yang kuat dan dapat diandalkan bagi Indonesia," ujar Beste.
Beste menyebut Jerman, sebagai kekuatan ekonomi terbesar ketiga di dunia, memiliki sistem hukum yang terpercaya serta rekam jejak investasi di bidang infrastruktur, energi bersih, digitalisasi, dan pertahanan. Keempat sektor itu diproyeksikan menjadi pilar utama dalam pembahasan tingkat tinggi nanti.
Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, sebelumnya menyatakan bahwa kerja sama transisi energi menjadi salah satu prioritas. Jerman selama ini menjadi mitra utama dalam pendanaan proyek-proyek hijau, termasuk melalui skema Just Energy Transition Partnership (JETP).
Kunjungan Steinmeier merupakan yang pertama sejak Prabowo menjabat. Momentum ini dinilai strategis untuk menyelaraskan posisi kedua negara di tengah dinamika geopolitik global, termasuk konflik di Ukraina yang memengaruhi pasokan energi dan rantai pasok Eropa.
Dari sisi ekonomi, nilai perdagangan bilateral Indonesia-Jerman pada 2025 tercatat mencapai lebih dari 8 miliar dolar AS. Jerman juga menjadi investor utama di sektor manufaktur dan otomotif Indonesia. Pertemuan di Istana Negara besok diharapkan menghasilkan nota kesepahaman baru yang memperluas akses pasar produk Indonesia ke Uni Eropa.
Kepala Sekretariat Presiden belum memberikan pernyataan resmi mengenai rincian agenda pertemuan. Namun, sumber di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian menyebutkan bahwa pembahasan soal investasi kendaraan listrik dan baterai kemungkinan besar masuk dalam daftar topik utama.
Steinmeier dijadwalkan tiba di Jakarta pada Senin pagi dan akan mengikuti rangkaian upacara penyambutan kenegaraan sebelum melakukan pertemuan tertutup dengan Prabowo. Kedua pemimpin dijadwalkan memberikan pernyataan pers bersama pada sore hari.