Tambang Kerikil di Hulu Ancam Drainase Bandara Pattimura, BPBD Ambon Gencarkan Mitigasi

Penulis: Topan Lubis  •  Senin, 15 Juni 2026 | 17:55:31 WIB
Penambangan kerikil di hulu sungai berpotensi mengganggu drainase Bandara Pattimura akibat sedimentasi.

KEPULAUAN RIAU — Penambangan kerikil di hulu sungai yang bermuara ke kawasan Bandara Pattimura dinilai menjadi ancaman serius bagi operasional bandara. Kepala BPBD Kota Ambon, Frits R.M. Tatipikalawan, mengatakan material sedimentasi dari tambang dapat memperparah pendangkalan saluran air.

“Aktivitas tambang kerikil berpotensi menyebabkan terganggunya sistem drainase di kawasan Bandara Pattimura akibat meningkatnya sedimentasi yang terbawa aliran sungai,” ujar Tatipikalawan melalui sambungan WhatsApp, Senin (15/6/2026).

Potensi Genangan Ancam Landasan Pacu

Sedimentasi yang terus menumpuk, menurut Tatipikalawan, bisa menyebabkan saluran drainase tersumbat. Akibatnya, saat hujan deras, air bisa meluap dan menggenangi area sekitar bandara, termasuk landasan pacu yang merupakan objek vital nasional di Maluku.

“Risiko ini harus dicegah sejak dini. Normalisasi sungai secara rutin perlu dilakukan agar sedimentasi terkendali dan potensi luapan air diminimalisir,” tegasnya.

Koordinasi Lintas Sektor untuk Data Cuaca Akurat

Usai bertemu dengan General Manager PT Angkasa Pura, rombongan BPBD bersama DPRD Kota Ambon melanjutkan kunjungan ke BMKG. Mereka meminta data prakiraan cuaca terkini untuk memperkuat sistem peringatan dini.

Tatipikalawan menjelaskan, informasi cuaca akurat menjadi dasar bagi pemerintah daerah dalam menyusun langkah antisipasi. “Kami butuh data perkembangan cuaca ke depan untuk menyampaikan peringatan dini kepada masyarakat jika ada potensi cuaca ekstrem,” katanya.

Mitigasi Bukan Hanya Saat Darurat

BPBD menekankan bahwa mitigasi bencana harus dimulai dari langkah pencegahan, bukan sekadar respons saat kejadian. Meski intensitas hujan tahun ini diperkirakan tak setinggi tahun sebelumnya, hujan lebat dalam durasi singkat tetap perlu diwaspadai karena bisa memicu banjir dan longsor di titik rawan.

“Mitigasi bencana adalah tanggung jawab bersama. Dengan koordinasi yang baik, risiko bisa ditekan dan keselamatan masyarakat serta infrastruktur penting terjaga,” pungkas Tatipikalawan.

Reporter: Topan Lubis
Sumber: bedahnusantara.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top