ISTANBUL — Harga emas dan minyak bumi bergerak di jalur berlawanan pada awal pekan ini setelah AS dan Iran mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik berkepanjangan. Harga emas spot tercatat naik 1,8 persen menjadi 4.297,42 dolar AS per ons pada pukul 07.10 WIB, level tertinggi sejak 9 Juni. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus menguat 1,9 persen menjadi 4.318,10 dolar AS per ons.
Di sisi lain, harga minyak justru tertekan. Kontrak berjangka minyak Brent yang sebelumnya diperdagangkan di atas 87 dolar AS per barel turun ke bawah level 84 dolar AS per barel. Hingga pukul 05.22 WIB, harga Brent tercatat melemah sekitar 4 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Koreksi ini dipicu oleh kabar mengenai rencana kesepakatan antara Washington dan Teheran yang dijadwalkan ditandatangani pada Jumat mendatang. Selama lebih dari tiga bulan, konflik antara kedua negara menjadi faktor utama yang mendorong harga minyak bertahan di level tinggi karena kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Timur Tengah.
Pejabat AS dan Iran menyatakan bahwa kesepakatan ini tidak hanya menekan harga minyak, tetapi juga meredakan kekhawatiran pasar terkait inflasi serta potensi kenaikan suku bunga. Para analis menilai bahwa meredanya ketegangan geopolitik akan menekan biaya energi global, yang selama ini menjadi penyumbang utama tekanan inflasi di berbagai negara.
Harga emas yang justru melonjak di tengah turunnya minyak menunjukkan bahwa investor masih mencari aset safe haven, meskipun risiko geopolitik mulai berkurang. Lonjakan harga emas ini juga dipicu oleh ekspektasi bahwa suku bunga global mungkin tidak akan naik seagresif yang dikhawatirkan sebelumnya.
Meskipun berita ini bersumber dari pasar internasional, pergerakan harga emas global biasanya langsung berdampak pada harga emas batangan di dalam negeri. Jika harga emas dunia terus bertahan di level tinggi, masyarakat Indonesia yang berencana membeli atau menjual emas perlu mencermati pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan.
Sebaliknya, penurunan harga minyak mentah dunia berpotensi menekan biaya impor bahan bakar minyak (BBM) Indonesia, yang pada akhirnya bisa mempengaruhi harga energi di dalam negeri. Namun, efek ini biasanya baru terasa dalam beberapa pekan ke depan tergantung kebijakan harga BBM nasional.