Toto menjelaskan, sensus kali ini tidak hanya membidik perusahaan besar atau pabrik. Pedagang keliling, warung rumahan, hingga pembuat konten TikTok yang menghasilkan pendapatan masuk dalam sasaran pendataan.
"Yang didata bukan hanya unit usaha, tetapi juga rumah tangga. Dari pimpinan tertinggi hingga masyarakat umum, seluruh pelaku ekonomi di Kepulauan Riau dan Indonesia akan menjadi bagian dari pendataan ini," ujar Toto dalam keterangan yang diterima Antara.
BPS Kepri sebelumnya memiliki direktori sekitar 197 ribu unit usaha. Melalui sensus ini, data tersebut akan diverifikasi ulang untuk mengetahui jumlah usaha yang masih aktif dan kondisi terkini perekonomian daerah.
Proses pendataan menggunakan aplikasi digital bernama FASIH. Melalui aplikasi itu, BPS dapat memantau kinerja petugas lapangan secara real time dan mengontrol kualitas data yang masuk.
Untuk memastikan target pendataan tercapai, BPS Kepri menerapkan inovasi SPSS atau Satu Pegawai Satu SLS (Satuan Lingkungan Setempat). Setiap pegawai BPS mendapat tanggung jawab mengawal satu wilayah tertentu, bukan hanya mengandalkan petugas mitra di lapangan.
"Beban pekerjaan tidak hanya berada pada petugas mitra di lapangan, tetapi juga menjadi tanggung jawab seluruh pegawai BPS yang ikut melakukan pengawasan dan pendampingan," tambah Toto.
Setiap rumah tangga yang telah didata akan ditempeli stiker Sensus Ekonomi 2026 sebagai tanda.
Gubernur Kepri Ansar Ahmad mengajak seluruh masyarakat menerima petugas sensus dan memberikan informasi yang benar, jujur, serta lengkap.
"Saya mengajak seluruh masyarakat Kepri untuk berpartisipasi aktif menyukseskan Sensus Ekonomi 2026. Terimalah petugas sensus yang datang dan berikan data yang benar serta lengkap, karena data yang akurat akan menjadi dasar penting dalam merumuskan kebijakan pembangunan ekonomi yang lebih baik bagi daerah dan masyarakat," ujar Ansar.
Data yang terkumpul nantinya akan menjadi potret kondisi ekonomi daerah sekaligus dasar perencanaan pembangunan nasional yang lebih terarah dan berkelanjutan.