MIND ID Jadi Motor Investasi Hilirisasi Mineral, Capai Rp 98,3 Triliun di Awal 2026

Penulis: Bastian Sihombing  •  Rabu, 17 Juni 2026 | 14:12:01 WIB
MIND ID catat investasi hilirisasi mineral Rp 98,3 triliun pada kuartal pertama 2026.

KEPULAUAN RIAU — Investasi di sektor pemurnian dan pengolahan mineral dalam negeri terus menggeliat. Sepanjang Januari hingga Maret 2026, realisasinya mencapai Rp 98,3 triliun. Angka tersebut disumbang signifikan oleh proyek-proyek hilirisasi yang digarap perusahaan-perusahaan di bawah naungan MIND ID.

Menteri Investasi/Kepala BKPM, Bahlil Lahadalia, menyebut komoditas tambang milik MIND ID menjadi magnet utama. “Nikel, tembaga, dan bauksit menjadi primadona. Tanpa bahan baku dari MIND ID, proyek smelter tidak akan jalan,” ujarnya dalam konferensi pers, Senin (14/4).

Proyek Smelter Tembaga dan Nikel Jadi Penopang

Dari total investasi tersebut, proyek smelter tembaga milik PT Freeport Indonesia (afiliasi MIND ID) di Gresik menjadi salah satu penyumbang terbesar. Proyek senilai US$ 3 miliar atau sekitar Rp 48 triliun itu ditargetkan rampung pada akhir 2026.

Selain tembaga, investasi besar juga mengalir ke sektor nikel. Beberapa pabrik pengolahan nikel (RKEF dan HPAL) di Sulawesi dan Maluku Utara terus beroperasi penuh. Proyek-proyek ini menghasilkan produk turunan seperti nickel matte dan mixed hydroxide precipitate (MHP) yang menjadi bahan baku baterai kendaraan listrik.

Direktur Utama MIND ID, Hendi Prio Santoso, mengatakan pihaknya fokus memastikan pasokan bijih mineral untuk smelter-smelter tersebut. “Kami tidak hanya menambang, tapi juga menjamin keberlanjutan bahan baku bagi industri hilir,” jelasnya.

Dampak ke Ekonomi dan Serapan Tenaga Kerja

Investasi ini berdampak langsung pada penyerapan tenaga kerja. Kementerian Investasi mencatat sektor hilirisasi mineral menyerap lebih dari 120 ribu pekerja di seluruh Indonesia hingga Maret 2026. Sebagian besar bekerja di pabrik pengolahan dan konstruksi smelter.

Daerah seperti Morowali, Weda Bay, dan Bintan menjadi titik konsentrasi proyek. Kawasan industri di sana tumbuh pesat, diikuti oleh sektor jasa dan perumahan di sekitarnya.

Pemerintah menargetkan investasi hilirisasi mineral bisa menembus Rp 150 triliun hingga akhir 2026. Dengan capaian 67 persen di kuartal pertama, target tersebut dinilai realistis.

Regulasi Jadi Kunci Keberlanjutan

Kebijakan larangan ekspor bijih mentah (ore) yang diterapkan sejak 2020 menjadi pendorong utama. Pemerintah mewajibkan setiap perusahaan tambang membangun smelter di dalam negeri. Jika tidak, izin ekspor mereka dicabut.

Kebijakan ini sempat digugat oleh Uni Eropa ke WTO, namun Indonesia tetap pada pendiriannya. Hasilnya, investasi di sektor pengolahan mineral melonjak drastis dalam lima tahun terakhir.

Ke depan, MIND ID akan mempercepat proyek smelter alumina di Kalimantan Barat dan smelter tembaga di Papua. Kedua proyek itu diharapkan mulai beroperasi pada 2027.

Reporter: Bastian Sihombing
Sumber: ekonomi.republika.co.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top