BATAM — Museum Raja Ali Haji di Kota Batam, Kepulauan Riau, masih menjadi tujuan edukasi dan wisata sejarah yang diminati. Data Disbudpar Batam menunjukkan, dari total 2.984 pengunjung selama lima bulan pertama 2026, pelajar dan wisatawan asing menjadi penyumbang angka kunjungan tertinggi.
Kepala Disbudpar Batam Ardiwinata mengungkapkan, dalam kondisi normal, museum bisa dikunjungi 400 hingga 500 pelajar per bulan. Namun, angka itu turun drastis pada Mei 2026 menjadi hanya 78 orang.
“Pelajar memang menjadi pengunjung yang paling banyak ke museum. Biasanya bisa mencapai 400 sampai 500 orang per bulan, tetapi pada Mei turun menjadi sekitar 78 orang karena kemungkinan anak-anak sedang menghadapi ujian,” kata Ardiwinata di Batam, Jumat.
Berdasarkan catatan Disbudpar, pola kunjungan museum cukup fluktuatif. Januari menjadi bulan dengan jumlah pengunjung tertinggi, mencapai 959 orang. Angka itu kemudian menurun pada Februari (858 orang), lalu merosot tajam di Maret (45 orang) akibat bertepatan dengan bulan Ramadhan.
Memasuki April, kunjungan kembali meningkat menjadi 744 orang, dan kembali turun pada Mei menjadi 378 orang. Ardiwinata menjelaskan, penurunan di Maret wajar karena aktivitas wisata edukasi ke museum berkurang selama bulan puasa.
Selain pelajar, wisatawan mancanegara juga menjadi segmen penting. Rata-rata hampir 200 wisman berkunjung setiap bulan. Mereka mayoritas berasal dari Singapura dan Malaysia, termasuk kalangan pensiunan atau kelompok usia di atas 50 tahun.
“Mereka tertarik karena museum ini menyajikan perjalanan sejarah yang cukup lengkap, mulai dari Kerajaan Riau-Lingga, sejarah Batam, hingga kisah Nong Isa,” ujar Ardiwinata. Ia menambahkan, banyak juga rombongan dari kalangan militer dan instansi luar negeri yang datang.
Untuk meningkatkan daya tarik, Disbudpar mengarahkan setiap rombongan pengunjung ke fasilitas mini theater yang tersedia di museum. Di sana, diputar video dokumenter tentang sejarah dan budaya Melayu secara audiovisual.
“Setiap ada kunjungan yang datang, pasti kami arahkan untuk mini theater Museum, karena ada video yang dapat ditonton tentang sejarah museum tersebut,” kata Ardiwinata. Respons pengunjung dinilai positif karena fasilitas itu membantu pemahaman secara lebih interaktif.
Meski kunjungan cukup ramai, pendapatan daerah dari retribusi Museum Raja Ali Haji baru terkumpul Rp 24,95 juta hingga Mei 2026. Angka itu masih jauh di bawah kontribusi kawasan Dendang Melayu yang mencapai Rp 176,41 juta pada periode yang sama.