Konsumen Mobil Pertama Enggan ke Hybrid, Daihatsu Ungkap Alasan Resale Value Jadi Penghalang

Penulis: Topan Lubis  •  Kamis, 25 Juni 2026 | 10:38:01 WIB
Konsumen mobil pertama di Indonesia masih enggan beralih ke teknologi hybrid karena kekhawatiran nilai jual kembali.

KEPULAUAN RIAU — Fenomena menarik terjadi di pasar otomotif nasional. Di tengah gencarnya kampanye mobil hybrid sebagai solusi bahan bakar irit, segmen pembeli mobil pertama justru menunjukkan resistensi. Mereka menolak dibujuk beralih ke teknologi hybrid, setidaknya untuk saat ini.

Hal ini diungkapkan langsung oleh Sri Agung Handayani, Marketing Director dan Corporate Communication Director PT Astra Daihatsu Motor (ADM). Menurutnya, karakter konsumen mobil pertama sangat berbeda dengan pembeli yang sudah berpengalaman.

Bukan Soal Irit, Tapi Takut Rugi Saat Jual Kembali

"Misalnya di kami, itu kustomernya first car buyer. Jadi mereka nggak bisa dipaksa (untuk membeli mobil hybrid sebagai mobil pertama mereka)," ujar Agung kepada wartawan di Depok belum lama ini.

Agung menjelaskan, pola pikir pembeli mobil pertama sudah terbentuk bahkan sebelum mereka melakukan transaksi pembelian. Orientasi mereka tidak berhenti saat mobil baru keluar dari showroom, melainkan langsung melompat ke skenario penjualan kembali di masa depan.

"Jadi mereka itu first car buyer. Berorientasinya bukan cuma pada saat beli. Karena belum beli aja, mereka udah mikirin berapa (harga) jualnya (kembali). Jadi profilingnya, mereka sangat memperhatikan itu (resale value). Takut mereka (kalau harus membeli mobil hybrid sebagai mobil pertama)," terang Agung.

Mayoritas Konsumen Daihatsu Adalah Pengguna Motor yang Baru Naik Kelas

Data internal ADM menunjukkan, sekitar 65 persen dari total konsumen Daihatsu adalah pembeli mobil pertama. Artinya, mereka sebelumnya hanya mengandalkan kendaraan roda dua dan kini memutuskan naik kelas ke roda empat.

Kelompok ini umumnya memiliki anggaran terbatas dan sensitif terhadap biaya kepemilikan jangka panjang. Bagi mereka, mobil adalah aset yang suatu saat harus dijual untuk modal membeli unit baru. Ketidakpastian harga jual mobil hybrid di pasar bekas menjadi momok yang sulit diabaikan.

Daihatsu Rocky Hybrid: Cuma 700 Unit, Bukan untuk Volume

Daihatsu sendiri sudah memiliki lini hybrid dalam wujud Rocky Hybrid yang diluncurkan di GIIAS 2025 lalu. Model ini didatangkan secara utuh (CBU) dari Jepang. Meski menawarkan efisiensi bahan bakar superior, Rocky Hybrid tidak ditargetkan sebagai penopang volume penjualan.

Hingga saat ini, Daihatsu Rocky Hybrid baru mencatatkan pesanan sekitar 700 unit di Indonesia. Angka ini terbilang kecil jika dibandingkan dengan total penjualan Rocky versi mesin konvensional. Fakta ini semakin mengonfirmasi bahwa pasar mobil hybrid di Indonesia, khususnya di segmen entry-level, masih butuh waktu untuk matang.

Keputusan Daihatsu untuk tidak memaksakan hybrid ke konsumen mobil pertama bisa dibilang realistis. Alih-alih memaksa adopsi teknologi yang belum diyakini pasar, mereka memilih fokus pada produk yang sesuai dengan profil dan kebutuhan konsumen mayoritas.

Reporter: Topan Lubis
Sumber: oto.detik.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top