NATUNA — Tiga desa di Kabupaten Natuna kini menjadi bagian dari program Desa Cantik (Desa Cinta Statistik) yang digagas BPS. Program ini bertujuan membangun kemandirian aparatur desa dalam menghasilkan, mengelola, dan memanfaatkan data sektoral tanpa sepenuhnya bergantung pada pemerintah pusat atau kabupaten.
Kepala BPS Natuna Wahyudi Dwi Sugianto menyebutkan tiga desa yang terlibat dalam program ini adalah Desa Batu Gajah, Desa Sungai Ulu, dan Desa Sepempang. Ketiganya berada di Kecamatan Bunguran Timur.
Pada Senin lalu, penandatanganan komitmen bersama dilakukan oleh kepala desa terkait, Bupati Natuna Cen Sui Lan, dan Kepala BPS Natuna. Komitmen ini menjadi dasar pelaksanaan program di lapangan.
"Melalui program ini, perangkat desa dan masyarakat didorong untuk meningkatkan literasi statistik, menerapkan standar pengelolaan data yang baik, serta mengoptimalkan pemanfaatan data sebagai dasar perencanaan dan pengambilan keputusan," ujar Wahyudi dalam keterangan resminya.
Menurut dia, data yang akurat menjadi salah satu kunci dalam menghasilkan kebijakan yang efektif. Hal ini mencakup pengentasan kemiskinan, peningkatan pelayanan publik, hingga penentuan program prioritas yang sesuai dengan kondisi riil di lapangan.
Pada 2026 mendatang, program Desa Cantik juga diarahkan untuk mendukung pemutakhiran dan peningkatan kualitas Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Data ini biasanya dijadikan acuan dalam menentukan penerima bantuan sosial.
Dengan adanya data yang lebih akurat dari tingkat desa, pemerintah daerah berharap tidak ada lagi warga miskin yang terlewat dari program bansos atau justru warga mampu yang masih menerima bantuan.
Wahyudi menjelaskan bahwa program ini tidak berjalan sendiri. BPS Natuna berkolaborasi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Natuna, Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa, serta desa-desa binaan.
"Dalam mensukseskan program ini kami berkolaborasi dengan berbagai pihak," katanya.
Kolaborasi ini dinilai penting karena pengelolaan data statistik di tingkat desa membutuhkan pendampingan teknis dan infrastruktur yang memadai, terutama di wilayah perbatasan yang kerap terkendala akses internet dan sumber daya manusia.