TAREMPA — Deru mesin kapal feri yang meninggalkan Pelabuhan Tarempa menuju Batam dan Tanjungpinang bukan sekadar suara perjalanan biasa bagi Acok. Bagi kepala keluarga dengan lima anak ini, suara itu adalah pengingat bahwa ia harus bertahan hidup.
Sejak 2020, dokter menyatakan Acok harus menjalani hemodialisis secara rutin. Setiap kali berobat, ia menghabiskan sekitar 11 jam di atas laut untuk mencapai rumah sakit rujukan di Tanjungpinang. Belum lagi waktu tunggu dan perjalanan pulang yang sama panjangnya.
"Bukan capeknya yang paling saya pikirkan, yang penting saya bisa sampai rumah sakit," ujarnya kepada Suarasatu.co, Kamis (2/7/2026).
Bagi warga pulau-pulau kecil di Anambas, berobat sering kali berarti menantang ombak dan cuaca yang sulit ditebak. Dulu, kata Acok, rasa sakit selalu datang bersama rasa takut — takut kapal tidak bisa berangkat, takut biaya perjalanan membengkak, dan paling berat, takut keluarga harus menjual apa pun yang mereka miliki.
"Kalau dulu orang sakit itu ya bingung dulu, bukan langsung berobat. Kepalanya sudah penuh mikir biaya," katanya sambil tersenyum tipis.
Di sela perjalanan panjang itu, ada satu benda yang selalu ia pastikan tidak tertinggal: kartu JKN berwarna hijau putih. Ia mengusap kartu itu sebelum memasukkannya kembali ke saku. "Alhamdulillah, saya masih punya harapan buat berobat," ucapnya lirih.
Di tengah riak laut yang memisahkan pulau-pulau di Anambas, BPJS Kesehatan tak hanya mengandalkan sistem. Mereka mengirim orang-orang yang bekerja dalam senyap menyisir warga, memberi edukasi, dan memastikan kepesertaan tetap aktif.
Salah satunya adalah Erwin, Agen PESIAR (Petakan, Sisir, Advokasi, dan Registrasi), yang sehari-hari menyusuri permukiman warga dari rumah ke rumah di Desa Air Bini. Ia bukan tenaga medis, melainkan penghubung antara masyarakat dan sistem JKN.
"Kadang ada warga yang belum paham prosedur, ada yang terkendala akses, bahkan ada yang baru sadar pentingnya JKN saat sakit datang," ujar Erwin.
Ia mendatangi warga satu per satu, membantu memastikan kartu tetap aktif dan prosedur dipahami. Dari Kelurahan Tarempa menuju Desa Kiabu, perjalanan laut delapan jam dengan kapal kayu menjadi rutinitas untuk menjangkau wilayah terluar.
Apa yang dialami Acok hanyalah satu dari sekian banyak kisah warga kepulauan yang harus bertaruh dengan jarak demi layanan kesehatan. Nama mereka mungkin tidak pernah muncul di televisi, dan kisah mereka jarang menjadi berita. Namun, mereka nyata.
Di wilayah kepulauan seperti Anambas, jarak memang belum bisa dipendekkan. Ombak juga belum bisa dihentikan. Tetapi setidaknya, masyarakat tidak lagi harus menambah beban pikiran tentang biaya layanan kesehatan ketika penyakit datang.
Seperti yang dijalani Acok: perjalanan 11 jam tetap panjang, badan tetap lemas, tapi harapan tetap ada selama kartu JKN masih tergenggam di tangannya.