TANJUNGPINANG — Produsen kerupuk khas Tanjungpinang, CV Kyria Rezeki, kini mampu memproduksi hingga 200 kilogram bahan mentah per hari setelah mengakses pinjaman KUR Rp500 juta dari Bank Negara Indonesia (BNI). Pemilik usaha, Bonak Candra, mengatakan dana tersebut menjadi penyelamat di tengah fluktuasi harga bahan baku laut seperti ikan, udang, cumi-cumi, dan gonggong.
"Pinjaman KUR sangat membantu sekali, karena bagaimana pun pelaku UMKM tetap butuh modal usaha, misalnya untuk membeli stok bahan baku produksi seperti ikan," kata Bonak di Tanjungpinang, Senin.
Bonak menceritakan pengalamannya saat pertama kali mengajukan kredit ke BRI sebelum tahun 2010. Kala itu, ia harus menjaminkan sertifikat rumah dan tanah hanya untuk mendapatkan pinjaman Rp250 juta guna membangun ruko. Kini, menurut dia, persyaratan pengajuan KUR jauh lebih sederhana dengan bunga yang disubsidi pemerintah tetap di angka enam persen per tahun.
Dengan tenor lima tahun, Bonak mencicil sekitar Rp10 juta per bulan. Ia mengaku tidak mengalami kendala berarti dalam proses pengajuan karena usahanya sudah berjalan puluhan tahun dan terus berkembang.
Sentra produksi CV Kyria Rezeki berada di Jalan Merpati, Kecamatan Tanjungpinang Timur, di atas lahan seluas 8.000 meter persegi. Lokasi itu mencakup rumah pribadi, bangunan pengolahan, gudang penyimpanan, hingga toko penjualan kerupuk kemasan. Bonak mempekerjakan 22 karyawan untuk mengolah berbagai jenis kerupuk kering khas Kepri.
Produk-produknya dikemas dalam plastik bening dan kemasan desain khusus, dengan harga jual mulai Rp6.500 hingga Rp25.000 per bungkus. "Kerupuk kami tersebar di warung kelontong, toko sampai swalayan," ujar dia.
Selain pasar lokal, kerupuk produksi Bonak rutin menembus pasar ekspor ke Singapura. Permintaan dari negeri jiran itu meningkat tajam saat perayaan Imlek, dengan volume pesanan mencapai ribuan bungkus dan nilai transaksi hingga ratusan juta rupiah.
Kondisi ini menunjukkan bahwa produk olahan lokal Tanjungpinang memiliki daya saing di pasar internasional, meski masih bergantung pada permintaan musiman.
Kepala Bank Indonesia (BI) Kepri Rony Widijarto mencatat, hingga April 2026, penyaluran kredit sektor UMKM di provinsi itu mencapai Rp17,07 triliun. Angka ini tumbuh 8,37 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, dan lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit UMKM nasional yang cenderung stagnan.
"Angka ini juga tercatat lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan kredit UMKM secara nasional yang cenderung stagnan," ujar Rony.
Menurut dia, capaian itu mencerminkan kuatnya aktivitas ekonomi daerah dan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha untuk mengembangkan bisnis. BI Kepri bersama pemerintah terus mendorong UMKM memanfaatkan KUR sebagai solusi permodalan yang terjangkau. "Pemerintah menjamin bunga KUR tetap stabil di angka enam persen per tahun, karena ditopang oleh subsidi tebal dari APBN," kata Rony.