JAKARTA - Cara hitung rasio utang terhadap penghasilan merupakan pengetahuan penting bagi setiap calon debitur agar dapat mengambil keputusan pinjaman secara lebih bijak dan menjaga kesehatan finansial dalam jangka panjang.
Sebelum mengajukan Kredit Tanpa Agunan (KTA), memahami besarnya porsi utang dibandingkan dengan pendapatan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko gagal bayar.
Rasio utang merupakan indikator yang digunakan untuk menilai kemampuan seseorang dalam memenuhi kewajiban cicilan berdasarkan penghasilannya.
Jika rasio tersebut terlalu tinggi, kondisi keuangan dapat menjadi tidak stabil dan arus kas bulanan berisiko terganggu, bahkan berpotensi menyebabkan pengajuan kredit ditolak.
Oleh karena itu, artikel ini akan membahas pengertian, manfaat, serta panduan praktis dalam menghitung rasio utang agar Anda dapat menerapkan cara hitung rasio utang terhadap penghasilan secara tepat sebelum mengajukan pinjaman.
Debt to income ratio atau rasio utang terhadap penghasilan merupakan nilai perbandingan yang menentukan apakah total cicilan utang bulanan seseorang masih berada dalam batas yang proporsional dengan penghasilan yang diterima.
Secara sederhana, nilai rasio ini memberikan gambaran apakah seseorang memiliki beban utang yang ideal sesuai dengan kemampuan finansialnya, sehingga risiko kesulitan dalam melunasi cicilan dapat dihindari.
Nilai ini berfungsi sebagai tolok ukur penting, baik bagi institusi perbankan dalam menilai kelayakan kredit maupun bagi pihak pengaju untuk mengukur kapasitas diri sendiri.
Rasio yang berada pada tingkat yang sehat menunjukkan bahwa kewajiban utang dapat dilunasi dengan lancar tanpa mengganggu kebutuhan pokok lainnya.
Dalam merencanakan pengajuan kredit, setiap individu tentu perlu mengetahui batas maksimal cicilan yang sanggup dipenuhi.
Rasio utang adalah tolok ukur yang praktis dan sangat mudah dihitung untuk memastikan stabilitas finansial tetap terjaga.
Agar kondisi keuangan tetap ideal, idealnya jumlah cicilan utang harus lebih rendah daripada total pendapatan bulanan.
Nilai rasio yang sehat akan berdampak pada stabilitas ekonomi yang lebih baik di masa depan.
Perhitungan ini dilakukan dengan membagi total cicilan bulanan dengan total pendapatan kotor, lalu dikalikan dengan 100% untuk mendapatkan hasil akhir berupa persentase.
Persentase ini memiliki tingkatan yang menentukan kesehatan kredit seseorang.
Setelah mengetahui nilai persentase Debt to Income (DTI), setiap angka tersebut memiliki interpretasi yang berbeda. S
ebagai contoh, jika nilai DTI sebesar 20%, artinya 20% dari total pendapatan kotor setiap bulan telah teralokasi untuk melunasi kewajiban utang.
Untuk memahami kondisi keuangan lebih lanjut, mari simak cara hitung rasio utang terhadap penghasilan berikut:
Rumus baku yang digunakan adalah sebagai berikut:
(Total Cicilan Bulanan / Total Pendapatan Kotor Bulanan) X 100%
Sebagai ilustrasi, jika seseorang memiliki pendapatan kotor sebesar Rp20.000.000 per bulan, dengan total cicilan utang sebesar Rp5.000.000, maka perhitungannya adalah:
(Rp5.000.000 / Rp20.000.000) X 100% = 25%
Dengan demikian, individu tersebut memiliki rasio utang sebesar 25% terhadap penghasilannya. Setelah memahami contoh perhitungannya, penting untuk mengetahui rentang nilai yang dikategorikan aman oleh lembaga keuangan.
Lembaga perbankan biasanya memberikan persetujuan kredit jika rasio yang dimiliki berada dalam level yang sehat. Namun, perlu diingat bahwa nilai ini bukan satu-satunya tolok ukur, karena proses persetujuan kredit melibatkan evaluasi kompleks sesuai dengan kebijakan internal bank masing-masing.
1. Rasio di Bawah 35%: Jika nilai DTI berada di bawah 35%, maka kondisi tersebut dikategorikan ideal.
Utang yang dibayarkan masih sebanding dengan pendapatan yang diterima.
Pemberi pinjaman cenderung lebih percaya untuk memberikan fasilitas kredit kepada debitur dengan tingkat DTI di bawah 35% karena dianggap memiliki kapasitas bayar yang tinggi.
Keuangan tergolong sehat, sehingga tidak memerlukan pengetatan pengeluaran secara ekstrem untuk memenuhi cicilan. Hal ini berdampak positif pada riwayat kredit dan memudahkan pengajuan pinjaman di masa depan.
2. Rasio 36% hingga 49%: Tingkatan ini dinilai kurang ideal, meskipun dalam beberapa kondisi masih bisa ditoleransi oleh bank.
Dalam rentang ini, kedisiplinan dalam mengatur pengeluaran menjadi mutlak diperlukan.
Jika keuangan tidak dikelola dengan ketat, kesulitan dalam memenuhi cicilan bulanan sangat mungkin terjadi.
Disarankan agar nilai rasio tidak melampaui 40% untuk menghindari risiko krisis finansial.
3. Rasio di Atas 50%: Persentase yang mencapai 50% atau lebih dikategorikan sebagai kondisi keuangan yang tidak sehat karena ketidakseimbangan yang parah antara utang dan pendapatan.
Hal ini berpotensi menyebabkan ketidakmampuan bayar, penunggakan cicilan, serta memperberat beban finansial di masa depan.
Jika mencapai level ini, sangat disarankan untuk segera melakukan konsultasi dengan ahli keuangan untuk merestrukturisasi utang.
Jika nilai rasio saat ini tergolong tinggi, terdapat dua langkah utama untuk memperbaikinya:
Hal ini dapat dilakukan dengan menegosiasikan kenaikan gaji atau mencari sumber pendapatan tambahan melalui pekerjaan sampingan yang memanfaatkan keahlian khusus.
Sangat disarankan untuk tidak menambah utang baru hanya untuk menutupi utang yang ada, karena tindakan tersebut hanya akan memperburuk situasi.
Langkah seperti perpanjangan tenor atau negosiasi bunga dapat membantu meringankan cicilan bulanan, sehingga rasio utang menjadi lebih terkendali.
Sebagai penutup, memahami cara hitung rasio utang terhadap penghasilan adalah langkah awal yang bijak sebelum mengambil komitmen pinjaman.
Dengan memiliki kredit yang sesuai dengan kondisi finansial, pengelolaan keuangan akan jauh lebih mudah dan beban hidup tetap terjaga.
Pastikan untuk selalu melakukan simulasi perhitungan yang matang agar KTA yang diajukan tidak memberatkan kondisi ekonomi di kemudian hari.