BATAM — Kolaborasi antara dunia pendidikan dan media ini diharapkan mampu mendorong kemajuan sektor pariwisata yang menjadi salah satu penggerak utama perekonomian daerah. MoU ditandatangani Ketua FJP Kepri, Novianto, bersama Wakil Direktur I Bidang Akademik BTP, Dr. Eryd Saputra.
Penandatanganan disaksikan langsung oleh jajaran pimpinan kampus, termasuk Wakil Direktur II Bidang SDM dan Keuangan Dr. Syafrudin Rais, Wakil Direktur III Bidang Kerja Sama, Kemahasiswaan, dan Pemasaran Eva Amalia, serta Ketua Forum Doktor Politeknik Pariwisata Batam Dr. I Wayan Thariqy K. Pristiwasa. Dari FJP Kepri, turut hadir Sekretaris Romauli Sianturi, Bendahara Dedy Suwadha, dan jajaran pengurus lainnya.
Ruang lingkup kerja sama mencakup empat bidang utama: pendidikan, penelitian, pengembangan SDM, dan pengabdian kepada masyarakat. Wakil Direktur I BTP, Dr. Eryd Saputra, menekankan bahwa kemajuan pariwisata tidak bisa dibangun oleh satu pihak saja.
"Terima kasih atas terlaksananya MoU ini. Kami berharap kolaborasi dengan FJP Kepri dapat memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan pariwisata Batam dan Kepulauan Riau. Membangun sektor pariwisata adalah tanggung jawab bersama, mulai dari dunia pendidikan, pelaku industri hingga media," ujarnya.
Ketua FJP Kepri, Novianto, menyebut kerja sama ini sebagai langkah awal membangun kolaborasi yang lebih luas. Menurutnya, FJP dan BTP memiliki visi serupa: menjadikan pariwisata sebagai motor penggerak ekonomi daerah.
"Alhamdulillah, kami diterima dengan sangat baik oleh Batam Tourism Polytechnic. FJP dan BTP memiliki semangat yang sama untuk memajukan sektor pariwisata Batam dan Kepri melalui kolaborasi yang saling mendukung," katanya.
Dalam diskusi sebelum penandatanganan, BTP membuka peluang bagi FJP untuk terlibat dalam berbagai kegiatan kampus sekaligus membantu promosi sektor pariwisata. Pihak kampus berharap FJP dapat memperkenalkan program unggulan BTP ke masyarakat, seperti Magister Terapan (S2), Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL), dan Program Sertifikasi setara Diploma I.
Setelah penandatanganan, rombongan FJP meninjau fasilitas kampus, termasuk ruang kelas, laboratorium, dan ruang praktik. Mereka juga mengunjungi Migrant Center yang berada di lingkungan kampus—satu dari dua pusat layanan pekerja migran yang beroperasi di Batam.
Pihak kampus menjelaskan sistem pembelajarannya: mahasiswa menjalani perkuliahan dengan pola bergantian antara teori dan praktik, masing-masing selama satu pekan. Setiap kelas dibatasi sekitar 25 mahasiswa agar proses belajar lebih efektif. Metode ini dirancang agar mahasiswa tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memperoleh pengalaman praktik di industri pariwisata secara menyeluruh, dari hulu ke hilir.
Saat ini, BTP memiliki empat program studi: Diploma IV Manajemen Kuliner, Diploma IV Manajemen Tata Hidangan, Diploma IV Manajemen Divisi Kamar, dan Magister Terapan Perencanaan dan Pengembangan Pariwisata.
Pertemuan ditutup dengan dialog mengenai tantangan dan peluang pengembangan pariwisata Batam dan Kepulauan Riau. Kedua pihak sepakat bahwa kolaborasi antara pendidikan, industri, pemerintah, dan media menjadi kunci meningkatkan daya saing pariwisata daerah ke depan.