TANJUNGPINANG — Hanya satu komoditas yang bisa dipenuhi dari dalam daerah: telur ayam ras. Produk itu dihasilkan dari Bintan, Batam, dan Tanjungpinang. Meski begitu, pasokan tambahan tetap didatangkan dari Sumatera Utara untuk menutup kekurangan.
Beras sebagai kebutuhan pokok utama dipasok dari enam daerah: DKI Jakarta, Lampung, Sumatera Barat, Jambi, Jawa Barat, dan Sumatera Utara. Kondisi serupa terjadi pada gula pasir yang bergantung pada DKI Jakarta, Sumatera Utara, Lampung, Batam, dan cadangan Bulog.
Daging sapi didatangkan dari Lampung dan tiga negara: Australia, India, dan Selandia Baru. Bawang merah dipasok dari Malaysia, Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Brebes. Sementara bawang putih hampir seluruhnya impor dari China dan Malaysia, ditambah pasokan dari Sumatera Utara dan Jawa Tengah.
“Adapun cabai masuk dari Sumatera Utara, Riau, Sumatera Barat, Yogyakarta, Jawa Timur, dan NTB,” jelas Aries.
Seluruh produsen tahu dan tempe di Kepri mengimpor kedelai dari Malaysia tanpa sedikit pun produksi lokal. Minyak goreng didatangkan dari Batam, Sumatera Utara, dan Jakarta.
Aries menjelaskan, minimnya diversifikasi sumber pasokan membuat Disperindag Kepri harus bekerja ekstra menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok. Ancaman terbesar datang saat cuaca ekstrem mengganggu jalur pelayaran atau menjelang hari besar keagamaan nasional.
“Karena hampir seluruh pasokan datang dari luar, faktor cuaca dan kelancaran transportasi laut sangat memengaruhi ketersediaan dan harga di Kepri. Ini yang terus kami pantau dan koordinasikan dengan daerah-daerah pemasok,” ujar Aries.
Pemetaan jalur distribusi ini, kata dia, disusun agar masyarakat dan pemangku kepentingan memahami rantai pasok bahan pokok Kepri sekaligus menjadi dasar merumuskan langkah antisipasi jika terjadi gangguan pasokan di salah satu titik asal barang.