NATUNA — Sebanyak 33 pelajar terbaik dari 15 kecamatan di Kabupaten Natuna mengikuti pemusatan pendidikan dan pelatihan calon Paskibraka untuk bertugas pada peringatan HUT Ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Mereka terdiri atas 18 putra dan 15 putri yang telah lolos seleksi ketat di tingkat kecamatan.
Kegiatan yang berlangsung di Kecamatan Bunguran Timur ini dirancang untuk membentuk generasi muda yang tidak hanya cekatan dalam bertugas, tetapi juga memiliki komitmen menjaga persatuan bangsa.
Wakil Bupati Natuna Jarmin menegaskan bahwa diklat ini merupakan tahap penting dalam membentuk generasi muda yang disiplin dan berkarakter. Materi yang diberikan meliputi penguatan nilai kebangsaan, nasionalisme, patriotisme, cinta tanah air, bela negara, integritas, hingga kepemimpinan.
"Seraplah ilmu, pengalaman, dan nilai-nilai yang diberikan para pelatih dan pembina. Jadikan setiap materi dan latihan sebagai sarana untuk membentuk mental, menguatkan fisik, serta mengembangkan karakter kepemimpinan," ujarnya saat membuka kegiatan, Sabtu (1/8).
Jarmin berharap para calon paskibraka mampu menjadi teladan bagi generasi muda lainnya, baik dalam sikap, perilaku, maupun kedisiplinan sehari-hari.
Kepala Dinas Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Natuna, Helmi Wahyuda, mengungkapkan bahwa meskipun ada penyesuaian anggaran pada 2026, hal itu tidak mengurangi kualitas pendidikan karakter yang menjadi inti pembinaan.
Salah satu langkah efisiensi yang dilakukan adalah mengurangi pengadaan pakaian dan atribut bagi para pendamping. Dengan begitu, anggaran dapat difokuskan pada kegiatan yang memberikan manfaat langsung kepada peserta.
"Sesuai arahan Ibu Bupati, pendidikan karakter tetap kami maksimalkan agar mampu menciptakan generasi muda yang memiliki rasa cinta tanah air, jiwa nasionalisme, serta semangat bela negara," kata Helmi.
Helmi menjelaskan bahwa pendidikan karakter dalam diklat ini dilakukan melalui dua pendekatan, yaitu teori dan praktik. Materi teori diberikan untuk menanamkan wawasan kebangsaan, sementara praktik difokuskan pada latihan fisik dan baris-berbaris.
Selama 17 hari pemusatan, para peserta akan menjalani rangkaian latihan intensif sebelum akhirnya dipercaya mengibarkan dan menurunkan bendera pusaka pada upacara peringatan kemerdekaan Republik Indonesia di tingkat kabupaten.