Pulau Bintan Dilanda 1.142 Titik Panas, Karhutla Tanjungpinang Capai 68 Hektare dalam 8 Bulan

Penulis: Bastian Sihombing  •  Senin, 31 Agustus 2026 | 22:40:33 WIB
Petugas pemadaman berupaya mengendalikan kebakaran hutan dan lahan di kawasan Tanjungpinang yang tercatat seluas 68 hektare sejak Januari hingga Agustus 2026.

TANJUNGPINANG — Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kota Tanjungpinang tercatat seluas 68 hektare sejak Januari hingga Agustus 2026. Wakil Wali Kota Tanjungpinang Raja Ariza menyebut angka itu berasal dari 150 kejadian yang tersebar di wilayah dengan banyak lahan semak dan kawasan perkotaan yang berbatasan langsung dengan vegetasi.

Kondisi itu memperkuat kewaspadaan di tengah kemarau panjang. BMKG Stasiun Meteorologi Raja Haji Fsabilillah (RHF) Tanjungpinang mendeteksi 1.142 titik panas di Pulau Bintan sepanjang periode yang sama. Rinciannya, 1.124 titik berada di Kabupaten Bintan dan 18 titik lainnya terpantau di Kota Tanjungpinang.

Karhutla di Tanjungpinang Capai 68 Hektare

Raja Ariza menekankan 150 kejadian karhutla itu harus menjadi perhatian serius semua pihak. Karakteristik wilayah yang banyak memiliki lahan kosong dan semak, ditambah cuaca panas kering, membuat api mudah menjalar.

"Makanya seluruh jajaran hingga masyarakat apabila melihat dan mendapat informasi titik api, segera berkoordinasi ke instansi terkait agar dapat ditangani sejak dini," kata Ariza.

Apa Pemicu Banyaknya Titik Panas?

Kepala BMKG Tanjungpinang Ahmad Kosasih menjelaskan tingginya jumlah titik panas dipengaruhi cuaca kering. Pulau Bintan mengalami hari tanpa hujan cukup lama, terhitung sejak Juli hingga Agustus 2026.

Dia menambahkan, beberapa titik api akibat kebakaran lahan tidak tertangkap satelit. "Beberapa titik panas akibat sebaran kebakaran lahan tidak terdeteksi oleh satelit BMKG, karena resolusi satelit yang tidak dapat menangkap titik api secara menyeluruh," katanya.

Imbauan untuk Warga

BMKG mengimbau masyarakat Pulau Bintan tidak membuka lahan dengan cara dibakar. Lingkungan yang kering dan rentan api membuat kebakaran mudah meluas.

"Mengingat kondisi lingkungan saat ini sangat rentan terhadap api, maka warga diharapkan tidak membuka lahan dengan dibakar," ujar Kosasih.

Reporter: Bastian Sihombing
Sumber: kepri.antaranews.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top