TANJUNGPINANG — Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) Provinsi Kepri memastikan program penataan rumah warga di Pulau Penyengat mulai berjalan setelah Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Perubahan 2026 disahkan. Sebanyak 100 rumah warga bakal mendapat sentuhan renovasi dengan nilai Rp20 juta per unit.
Kepala DPKP Provinsi Kepri Said Nursyahdu mengatakan, renovasi difokuskan pada pengecatan dan perbaikan fisik sesuai kondisi masing-masing bangunan. Langkah ini diambil untuk merapikan wajah permukiman di pulau yang dikenal sebagai situs sejarah Melayu itu.
“Program ini untuk menambah daya tarik bagi wisatawan dalam maupun luar negeri. Tahun ini ada 100 rumah yang akan kita renovasi,” kata Said, Jumat (31/7/2026).
Anggaran Renovasi Rumah di Pulau Penyengat Capai Rp2 Miliar
Total anggaran yang disiapkan mencapai Rp2 miliar, bersumber dari Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kepri. Said menegaskan nominal tersebut sudah termasuk untuk seluruh kebutuhan renovasi di 100 titik rumah warga.
“Sehingga total keseluruhan anggarannya Rp2 miliar,” jelasnya.
Ia menambahkan, teknis pengerjaan di lapangan akan disesuaikan dengan kebutuhan setiap rumah. Tidak semua unit mendapat perlakuan serupa, karena skala kerusakan dan model bangunan berbeda-beda.
Menghidupkan Ekonomi Wisata di Pulau Penyengat
Penataan kawasan permukiman ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah daerah dalam mengembangkan sektor pariwisata. Pulau Penyengat selama ini menjadi salah satu ikon sejarah di Tanjungpinang, terkenal dengan Masjid Raya Sultan Riau dan kompleks makam Raja Ali Haji.
Dengan wajah kampung yang lebih tertata, Pemprov Kepri berharap kunjungan wisatawan domestik maupun mancanegara meningkat. Dampak lanjutannya diharapkan menggerakkan ekonomi warga setempat, terutama pelaku usaha kecil dan pengrajin cendera mata.
“Pekerjaannya akan kita mulai setelah APBD Perubahan 2026 disahkan,” pungkas Said.
Program renovasi ini menjadi perhatian warga Pulau Penyengat yang selama ini menggantungkan hidup pada sektor pariwisata dan jasa perjalanan laut. Sebagian besar rumah di pulau tersebut merupakan bangunan tua bergaya Melayu yang membutuhkan perawatan berkala.