KEPULAUAN RIAU — Google menarik kembali fitur berbasis kecerdasan buatan di Google Earth yang baru dirilis sehari sebelumnya. Fitur yang memanfaatkan model AI bernama Nano Banana 2 ini memungkinkan siapa saja untuk membuat gambar fiktif dan menempelkannya langsung di atas tampilan peta satelit asli, sebuah kombinasi yang langsung menuai kecaman dari jurnalis dan peneliti.
Kritik tajam datang dari berbagai kalangan. Seorang jurnalis BBC bahkan menyindir di platform X bahwa mustahil fitur ini disalahgunakan untuk menyebarkan informasi palsu, mengingat Google Earth selama ini menjadi salah satu sumber bukti visual paling tepercaya bagi jurnalis dan akademisi.
Alasan Penarikan Fitur
Dalam pernyataan resminya, Google mengakui bahwa fitur tersebut telah digunakan oleh profesional geospasial untuk berbagai keperluan yang bermanfaat. Namun, perusahaan juga menemukan banyak pengguna yang membagikan tangkapan layar hasil generate yang dinilai melanggar kebijakan mereka.
"Kami menarik kembali fitur ini di Google Earth sambil kami bekerja untuk menerapkan pengaman yang lebih kuat," demikian bunyi pernyataan resmi Google.
Risiko Penyalahgunaan di Era AI
Kekhawatiran terhadap fitur ini memang beralasan. Dengan model berbasis perintah teks (prompt), pengguna bisa dengan mudah membuat gambar banjir bandang, kebakaran hutan, atau peristiwa lain yang tidak pernah terjadi, lalu menampilkannya seolah-olah dokumentasi satelit asli. Potensi penyalahgunaannya untuk propaganda atau hoaks sangat besar.
Kendati demikian, perlu dicatat bahwa masalah ini sebenarnya bukan hal baru. Di era AI generatif saat ini, hampir semua gambar di internet bisa dimanipulasi dengan mudah. Seseorang tidak perlu lagi mahir menggunakan Photoshop untuk membuat disinformasi yang tampak meyakinkan—cukup dengan akses ke generator gambar AI yang banyak tersedia, termasuk yang dijual Google sendiri.
Dampak bagi Pengguna
Bagi pengguna umum di Indonesia, penarikan fitur ini berarti tidak ada perubahan signifikan pada fungsi dasar Google Earth. Peta satelit, tampilan 3D, dan fitur eksplorasi lainnya tetap berjalan normal. Yang hilang hanyalah kemampuan untuk menyisipkan gambar hasil generate AI langsung ke tampilan peta.
Keputusan Google ini menjadi pengingat bahwa integrasi AI generatif ke dalam produk yang mengandalkan akurasi data, seperti pemetaan, membutuhkan pertimbangan etika yang jauh lebih matang. Meski fitur tersebut dinilai "kreatif" dari sisi konsep, risiko penyalahgunaannya terbukti terlalu besar untuk diabaikan. Sampai Google berhasil membangun sistem pengaman yang lebih ketat, fitur ini akan tetap dinonaktifkan.