KEPULAUAN RIAU — Perdana Menteri China Li Qiang telah tiba di lokasi bencana pada Kamis (27/8) untuk memantau langsung operasi penyelamatan yang berlangsung di Kabupaten Gyirong, Daerah Otonom Xizang. Dalam pernyataannya di media pemerintah, ia menegaskan bahwa pemerintah harus berpegang pada pemikiran mengenai skenario terburuk dan batas keselamatan, serta dengan tegas mengatasi sikap lengah.
Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyatakan bahwa rencana penyelamatan yang matang harus disusun dan segala upaya harus dikerahkan untuk mencari orang-orang yang masih hilang, baik warga China maupun warga negara asing. "Di kawasan sekitarnya masih terdapat banyak gletser dan danau glasial dengan risiko bahaya geologis yang cukup besar, sehingga menimbulkan kesulitan yang sangat besar bagi operasi penyelamatan dan penanganan bencana," ujarnya.
Ancaman Jebolnya Bendungan Alam di Hulu Sungai
Pemerintah China pada Kamis (27/8) mengeluarkan peringatan keras mengenai kondisi danau di dekat pertemuan Sungai Chhochen Khola dan Purepu Tsangpo yang dilaporkan sudah meluap dan berisiko tinggi mengalami jebol. Fragmen aliran lumpur terlihat di kedua sisi bendungan, dengan perkiraan awal menunjukkan danau tersebut berisi setidaknya 2,5 juta meter kubik air.
Kedua sungai tersebut menyatu sebelum memasuki Nepal dan alirannya kemudian dikenal sebagai Sungai Bhotekoshi, anak sungai utama dari Sungai Trishuli. Kekhawatiran baru muncul pada Jumat setelah satu danau bendungan besar yang terbentuk akibat banjir bandang dilaporkan jebol dan berpotensi memicu gelombang air lain ke permukiman di hilir.
Korban Tewas Capai 547 Orang, Evakuasi Terus Berlanjut
Berdasarkan data terkini, jumlah korban tewas akibat banjir di Nepal telah mencapai 547 orang. Otoritas Nepal telah mengevakuasi 3.253 orang selama terjadi banjir bandang yang melanda wilayah utara dan tengah Nepal pada Rabu (26/8), dengan lokasi terparah di Trishuli Bazar, distrik Nuwakot.
Kementerian Luar Negeri Nepal di Kathmandu melaporkan 596 orang dari 33 negara masih dinyatakan hilang, ditambah 127 warga negara Nepal yang belum diketahui keberadaannya. Sementara itu, pemerintah China mengatakan di wilayahnya terdapat 558 orang, termasuk 260 warga negara asing, yang dinyatakan hilang.
121 Wisatawan Asing Berhasil Diselamatkan
Dewan Pariwisata Nepal menyatakan jumlah wisatawan asing yang berhasil diselamatkan pascabanjir mencapai 121 orang hingga Jumat (28/8) pukul 15.30 waktu setempat. Mereka berasal dari India, China, Korea Selatan, Amerika Serikat, Rusia, Italia, Bulgaria, dan Swiss, sementara tiga kewarganegaraan dari 121 penyintas belum terkonfirmasi.
Survei Geologi Amerika Serikat (USGS) pada Kamis (27/8) menyebutkan bahwa aktivitas seismik tersebut disebabkan oleh runtuhnya gletser yang menerjang permukiman di sepanjang Sungai Bhotekoshi dan Trishuli serta menyeret orang-orang dan membawa material longsoran ke arah hilir. Para ahli dan lembaga resmi China serta Nepal telah melakukan penilaian awal yang menunjukkan bencana ini dipicu oleh runtuhnya gletser di kawasan dataran tinggi di Nepal.
Lin Jian menambahkan bahwa informasi terkait negara asal korban masih dalam proses verifikasi lebih lanjut. "Kami telah memberi tahu kedutaan besar negara-negara terkait di China dan akan tetap berkomunikasi dengan mereka," katanya. Operasi penyelamatan di wilayah Nepal yang dilanda banjir kembali dilanjutkan setelah sempat dihentikan sementara akibat tingginya permukaan air.