KEPULAUAN RIAU — Banyak ibu hamil mendengar mitos bahwa janin yang sering bergerak di sisi kanan perut pasti berjenis kelamin laki-laki. Padahal, dunia medis menegaskan tidak ada kaitan antara letak janin dan jenis kelamin bayi. Berikut penjelasan lengkapnya, mulai dari faktor yang memengaruhi posisi janin hingga cara akurat mengetahui jenis kelamin si kecil.
Keinginan tahu jenis kelamin bayi sering membuat ibu hamil mencari berbagai petunjuk, termasuk dari posisi janin di perut. Salah satu anggapan yang beredar luas adalah janin di sebelah kanan berarti laki-laki, sedangkan di kiri berarti perempuan. Namun, benarkah demikian?
Secara medis, letak janin di sisi kanan atau kiri rahim tidak bisa dijadikan dasar untuk mengetahui jenis kelamin bayi. Janin yang sering berada di kanan bisa saja laki-laki maupun perempuan.
Hingga kini, belum ada bukti ilmiah yang menghubungkan posisi janin dengan jenis kelamin. Posisi bayi di dalam rahim pun terus berubah seiring bertambahnya usia kehamilan, terutama saat ruang rahim masih luas.
Jadi, jika dokter melihat janin berada di sebelah kanan saat USG, itu sama sekali tidak berarti bayi pasti laki-laki.
Penelitian tentang penentuan jenis kelamin janin lebih fokus pada pemeriksaan anatomi lewat ultrasonografi (USG) atau analisis kromosom, bukan pada posisi janin.
Satu studi yang dimuat dalam Journal of Clinical Ultrasound meneliti prediksi jenis kelamin lewat USG pada trimester pertama. Dari 672 janin, jenis kelamin berhasil diprediksi pada 608 janin, dan 532 di antaranya atau sekitar 87,5 persen sesuai dengan hasil sebenarnya.
Akurasi prediksi ini dipengaruhi usia kehamilan dan ukuran janin. Studi lain terhadap 2.593 janin juga menunjukkan hal serupa, di mana penentuan jenis kelamin dilakukan dengan melihat gambaran anatomi genital janin.
Artinya, saat ingin mengetahui jenis kelamin lewat USG, yang dinilai adalah struktur anatomi dan perkembangan organ genital bayi, bukan posisi tubuhnya di rahim.
Ada beberapa faktor yang membuat ibu hamil lebih sering merasakan gerakan bayi di satu sisi perut tertentu.
Ketiga hal ini menegaskan bahwa gerakan yang dominan di kanan atau kiri bukan petunjuk jenis kelamin.
Pada usia kehamilan muda, ukuran janin masih kecil dibandingkan ruang rahim, sehingga ia leluasa berpindah tempat. Karena itu, hasil USG bisa menunjukkan posisi berbeda dari satu pemeriksaan ke pemeriksaan berikutnya.
Kondisi ini membuat posisi janin pada satu waktu tidak bisa dipakai untuk memprediksi jenis kelamin bayi.
Jika ibu ingin tahu jenis kelamin si kecil, ada pemeriksaan medis yang jauh lebih dapat diandalkan dibandingkan mitos posisi janin.
Jika ibu penasaran dengan jenis kelamin bayi atau merasakan perubahan gerakan janin yang tidak biasa, jangan ragu bertanya ke dokter kandungan. Pemeriksaan rutin sesuai jadwal akan membantu memantau kesehatan ibu dan janin sekaligus menjawab rasa penasaran tersebut.
Mitos soal posisi janin memang menarik untuk dibahas, tetapi kepastian jenis kelamin hanya bisa didapat lewat pemeriksaan medis. Tetap fokus pada kesehatan kehamilan dan nikmati setiap momen menanti si kecil, ya.