KEPULAUAN RIAU — Wakil Presiden Amerika Serikat, JD Vance, buka suara mengenai proses diplomasi yang sedang berlangsung dengan Iran. Dalam wawancara dengan Fox News pada Rabu (5/8) malam waktu setempat, Vance menggambarkan pihak Iran sebagai lawan negosiasi yang sangat sulit dihadapi dengan sistem politik yang terpecah-belah.
"Tugas kami adalah mengelola situasi tersebut dan meraih hasil terbaik bagi rakyat Amerika, serta bagi Presiden Amerika Serikat," ujar Vance dalam wawancara yang dilansir CNN.
Target Akhir: Harga Minyak Turun dan Iran Tanpa Nuklir
Vance menegaskan bahwa pemerintahan Trump memiliki visi yang jelas mengenai hasil akhir dari negosiasi ini. Ia memproyeksikan stabilitas pasar energi global dan pencegahan proliferasi nuklir di Timur Tengah sebagai dua capaian utama yang dikejar Washington.
"Dan menurut saya, pada akhirnya nanti, hasil akhirnya adalah seperti yang Anda lihat, harga minyak hari ini berada di kisaran 79 dolar AS. Harga minyak itu akan turun dan tetap rendah. Iran tidak akan pernah memiliki senjata nuklir, dan Amerika Serikat akan berada dalam posisi yang lebih kuat," papar Vance.
Kendati optimistis dengan hasil akhir, Vance mengingatkan publik agar tidak terburu-buru menarik kesimpulan. Ia menilai proses yang sedang berjalan saat ini masih jauh dari kata final dan dinamika di lapangan bisa berubah sewaktu-waktu.
"Namun, saat ini kita masih berada di tengah proses, dan menurut saya orang-orang cenderung terburu-buru menilai bagaimana hal ini akan berakhir," sambungnya.
Bantahan Teheran dan Sikap Ganda Iran
Pernyataan Vance ini muncul di tengah kebingungan diplomatik mengenai status sebenarnya hubungan AS-Iran. Pemerintah Iran secara terbuka membantah sedang terlibat dalam negosiasi langsung dengan Amerika Serikat, menciptakan kontradiksi dengan pernyataan pejabat tinggi AS.
Wakil Menteri Luar Negeri Iran, Kazem Gharibabadi, sebelumnya menyatakan bahwa Teheran belum memutuskan apakah akan melangkah menuju pelaksanaan nota kesepahaman antara kedua negara. Sikap ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan internal di tubuh pemerintahan Iran mengenai arah kebijakan luar negeri mereka terhadap AS.
Ketidakjelasan ini menandakan bahwa jalan menuju kesepakatan masih panjang. Meski kedua pihak sama-sama menyebut adanya kerangka pemahaman, belum ada keputusan konkret yang diumumkan secara resmi oleh Teheran terkait tindak lanjut nota kesepahaman tersebut. Pasar dan pengamat internasional kini menunggu langkah nyata selanjutnya dari kedua negara.