JAKARTA - Menteri PU Dody Hanggodo tengah mematangkan inovasi material jalan bernama Aspal Merah Putih.
Kebijakan ini diambil guna mencegah pembengkakan biaya proyek jalan tol yang berpotensi membebani masyarakat lewat kenaikan tarif.
Rencananya, inovasi ini baru akan diperkenalkan secara resmi setelah perayaan Kemerdekaan RI pada 17 Agustus 2026.
"Nanti kita sebut sebagai Aspal Merah Putih. Ini bocoran sedikit, nanti mungkin setelah 17 Agustus lah kita launch ya," ujar Menteri PU Dody.
Sinergi Asbuton dan Pertamina Demi Kemandirian Nasional
Secara komposisi, produk ini memadukan aspal buton (asbuton) dari Pulau Buton dengan aspal cair olahan milik PT Pertamina (Persero).
Kebijakan pencampuran ini ditempuh untuk melepaskan ketergantungan Indonesia pada aspal impor, sekaligus memastikan operasional Badan Usaha Jalan Tol (BUJT) tetap memiliki kelayakan ekonomi.
"Kalaupun kita menggunakan aspal buton dengan berbagai macam alasan, itu tetap dari sisi ekonomisnya harus masuk. Supaya kemudian tarif untuk masyarakat itu tidak perlu nambah untuk sesuatu yang sebetulnya nggak terlalu penting-penting amat kan," kata Menteri Dody.
Tekan Biaya Produksi hingga 20 Persen tanpa Bebani APBN
Soal harga jual, Dody menargetkan Aspal Merah Putih tidak boleh lebih mahal dari harga aspal yang beredar di pasaran saat ini, bahkan diproyeksikan bisa ditekan 10 hingga 20 persen lebih murah.
Turunnya harga ini dinilai krusial agar pengeluaran pihak kontraktor dan BUJT menjadi lebih efisien tanpa menguras Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
"Saya tekankan itu, jangan sampai kemudian ada aturan baru kemudian menaikkan biaya produksi itu nggak boleh sama sekali. Sangat nggak boleh," pungkas Dody Hanggodo.
Sederet Keunggulan dan Manfaat Ekonomi Aspal Merah Putih
Selain menekan biaya produksi jalan tol, pemanfaatan Asbuton dalam inovasi Aspal Merah Putih membawa beragam keuntungan jangka panjang bagi masyarakat dan infrastruktur Indonesia, di antaranya:
1. Ketahanan Lebih terhadap Cuaca Tropis
Asbuton memiliki daya tahan tinggi terhadap cuaca ekstrem dan suhu panas, sehingga struktur jalan tol tidak gampang retak atau rusak akibat genangan air.
2. Daya Rekat Material yang Maksimal
Kandungan bitumen alami membuat perkerasan jalan lebih kokoh dan stabil ketika menahan beban dinamis dari kendaraan berat logistik.
3. Penghematan Devisa Negara
Penggantian aspal impor dengan produk lokal ini turut berkontribusi pada efisiensi anggaran negara dan penghematan cadangan devisa.
4. Membuka Peluang Kerja Baru
Rantai pasok material ini turut menggerakkan roda perekonomian lokal, khususnya bagi masyarakat Pulau Buton, sekaligus memberdayakan industri pengolahan dalam negeri.