NATUNA — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Natuna memastikan program bantuan kelapa unggul tahun ini tidak berhenti pada pembagian bibit saja. Para petani akan didampingi hingga tahap penanaman agar lahan yang dikelola benar-benar produktif dalam beberapa tahun ke depan.
Kepala DKPP Natuna, Wan Syazali, mengungkapkan bahwa sosialisasi teknis budidaya akan digelar pada Jumat, 22 Agustus 2026, di Gedung Sriserindit, Ranai. Kegiatan tersebut dijadwalkan dibuka langsung oleh Bupati Natuna, Cen Sui Lan.
Bibit Bersertifikat dan Berusia Enam Bulan
Ribuan bibit yang disiapkan merupakan varietas unggul lokal bersertifikat dari Kementerian Pertanian. Sebelum disalurkan, bibit yang saat ini berusia sekitar enam bulan itu akan kembali diperiksa untuk memastikan kualitasnya sesuai standar.
“Bibit gratis, pupuk gratis, serta operasional upah nanam juga diberikan,” ujar Wan Syazali di Kantor Bupati Natuna, Rabu, 19 Agustus 2026.
Pendampingan Teknis dari Ahli Medan
Agar bantuan tidak menjadi kegiatan seremonial belaka, pemerintah menghadirkan tiga narasumber dari Balai Besar Perbenihan dan Perlindungan Tanaman Perkebunan (BBPPTP) Medan. Para ahli ini akan memberikan materi mengenai tata cara penanaman hingga perawatan tanaman kelapa kepada petani.
Wan Syazali menegaskan bahwa aspek pengetahuan menjadi kunci keberhasilan program. Pemerintah ingin memastikan setiap petani memahami teknik budidaya yang benar sehingga bantuan yang diberikan dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.
Penanaman Serentak Dimulai Oktober 2026
Setelah sosialisasi selesai, penanaman dijadwalkan berlangsung pada Oktober 2026. Setiap petani diberikan batas maksimal pengelolaan lahan seluas dua hektare untuk memastikan perawatan tanaman berjalan maksimal.
Program ini merupakan investasi jangka panjang bagi Natuna. Kelapa membutuhkan waktu sebelum menghasilkan buah, sehingga pemerintah berharap dukungan penuh dari hulu ke hilir—mulai dari bibit, pupuk, biaya tanam, hingga pendampingan teknis—mampu mengurangi beban petani dalam mengembangkan lahannya.
Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah bibit yang tersalurkan, tetapi juga dari tumbuh sehatnya tanaman dan meningkatnya kesejahteraan keluarga petani di kemudian hari.