BATAM — Langkah ini menjadi tonggak baru bagi industri penerbangan nasional. Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU) Ditjen Perhubungan Udara Kemenhub, Sokhib Al Rokhman, menegaskan bahwa penerbitan sertifikat tersebut mengonfirmasi BAE telah memenuhi seluruh standar keselamatan, kualitas, dan regulasi kelaikudaraan penerbangan sipil.
"Hari ini kita bersyukur dapat meresmikan terbitnya sertifikat AMO 145D111. Penerbitan sertifikat ini mengafirmasikan bahwa PT Batam Aero Engine telah memenuhi seluruh persyaratan keselamatan, kualitas dan standar kelaikudaraan," kata Sokhib dalam peresmian BAE di Batam, Rabu.
Mengurangi Ketergantungan Perawatan ke Luar Negeri
Selama ini, sebagian besar perawatan komponen dan mesin pesawat maskapai Indonesia masih bergantung pada fasilitas di luar negeri. Dengan hadirnya BAE, Sokhib menargetkan kemandirian penuh untuk perawatan airframe hingga 100 persen di dalam negeri.
"Kita harus merdeka untuk melakukan perawatan airframe 100 persen dalam negeri. Ini dimulai dengan fasilitas BAE di Batam Aero Technic," ujarnya.
Spesialisasi Mesin Pesawat dan APU
PT BAE merupakan bagian dari ekosistem MRO (maintenance, repair and overhaul) Batam Aero Technic (BAT) milik Lion Group. Presiden Direktur Lion Group sekaligus Direktur Utama PT Batam Teknik/Batam Aero Technic, Capt. Daniel Putut Kuncoro Adi, menjelaskan bahwa BAE memiliki kapabilitas khusus yang membedakannya dari fasilitas MRO lain.
"Semua fasilitas MRO itu sama, tapi pesawat kan banyak komponennya. BAE ini khusus mesin pesawat dan APU," kata Daniel.
Dengan sertifikasi ini, maskapai tidak perlu lagi mengirim mesin pesawatnya ke luar negeri untuk menjalani perawatan berkala. "Sehingga yang biasanya mesin-mesin pesawat ini dirawat di luar, Batam Aero Engine sudah mempunyai kapabilitas untuk bisa dilaksanakan di Indonesia, khususnya di Batam," jelasnya.
Efek Berganda bagi Ekonomi Batam
Kehadiran BAE tidak hanya berdampak pada industri penerbangan. Kepala Badan Pengusahaan (BP) Batam sekaligus Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menyebut pengembangan industri MRO ini akan memberikan efek berganda bagi perekonomian daerah, terutama dari sisi penyerapan tenaga kerja.
Saat ini, jumlah pekerja di lingkungan Batam Aero Technic mencapai sekitar 5.000 orang. Amsakar optimistis angka tersebut akan terus bertambah seiring dengan pengembangan fasilitas.
"Pengembangan yang dilakukan oleh Batam Aero Technic akan memberi multiplier effect kepada Batam. Karyawan yang direkrut otomatis memiliki skill, mendapatkan gaji sesuai kompetensi dan standar. Ini akan memberi efek ganda terhadap ekonomi Batam dalam sektor konsumsi rumah tangga misalnya," kata Amsakar.
Potensi Penekanan Devisa dan Peluang Pasar Asing
Dari sisi ekonomi makro, keberadaan BAE dinilai mampu menekan devisa yang selama ini keluar untuk biaya perawatan pesawat di luar negeri. Lebih dari itu, fasilitas ini juga membuka peluang masuknya devisa baru apabila maskapai asing tertarik menggunakan jasa perawatan di Batam.
Dengan kapabilitas yang telah tersertifikasi, Batam kini memiliki posisi tawar untuk menjadi hub MRO kawasan, sejalan dengan posisinya yang strategis di jalur penerbangan internasional. Peresmian ini menandai langkah konkret penguatan ekosistem penerbangan nasional yang berpusat di Kepulauan Riau.