KEPULAUAN RIAU — Ramp, perusahaan yang fokus pada pengelolaan pengeluaran korporat, ikut meramaikan bisnis infrastruktur kecerdasan buatan dengan meluncurkan layanan bernama Router. Layanan ini berfungsi sebagai penengah yang menghubungkan pengguna dengan berbagai model bahasa besar (LLM) dari sejumlah penyedia, sehingga pengguna bisa memilih dan berpindah model sesuai kebutuhan tanpa perlu mengganti API.
Kabar ini datang tidak lama setelah Stripe, kompetitor di bidang fintech, juga merambah layanan serupa. Ramp mengklaim telah memakai router yang mereka bangun sendiri untuk kebutuhan AI internal selama tiga tahun terakhir sebelum akhirnya dibuka untuk publik.
Model AI yang Didukung dan Cara Kerja Router
Router memberikan akses ke model-model dari OpenAI, Anthropic, DeepSeek, Moonshot, Minimax, Nvidia, xAI, dan Z.ai. Pengguna bisa memilih model yang tersedia dan mengatur strategi routing sesuai preferensi.
Beberapa strategi yang ditawarkan antara lain: preferensi ke tier fleksibel dari penyedia model, pemilihan model berdasarkan hingga tiga benchmark yang ditentukan pengguna, atau mengarahkan hanya masalah sulit ke model mahal. Ada juga mode pengujian model tanpa perlu berpindah antar platform.
Fitur ini mirip dengan OpenRouter, meski katalog model yang ditawarkan Ramp masih lebih sedikit. Namun Ramp menambahkan dasbor pemantauan yang menampilkan token spend, biaya, latensi, upaya fallback, dan detail teknis lain.
Kebijakan Data dan Insentif Peluncuran
Router memiliki kebijakan retensi data yang bersifat opt-out. Input, output, dan panggilan alat (tool calls) akan direkam secara default selama satu tahun. Ramp menyatakan akan menghapus informasi identitas pribadi sebelum menggunakan konten tersebut untuk meningkatkan produk.
Untuk sisa tahun 2026, layanan ini gratis digunakan. Pengguna tetap membayar biaya inferensi model AI yang dipakai, dan mendapat kredit peluncuran senilai 26 dolar AS (sekitar Rp 429 ribu). Ramp belum mengumumkan skema harga untuk tahun depan.
Strategi Bisnis Ramp di Balik Router
Masuknya Ramp ke bisnis routing model AI membuka dua peluang sekaligus. Pertama, Ramp bisa mengambil porsi dari pasar inferensi AI yang sedang tumbuh pesat. Kedua, layanan ini melengkapi produk yang sudah ada, seperti pemantauan penggunaan token AI dan manajemen belanja token.
Jika Router mampu menarik minat sebagai arena pengujian model seperti OpenRouter, Ramp berpeluang membangun hubungan jangka panjang dengan laboratorium AI dan penyedia inferensi global. Hal ini bisa membantu Ramp, yang mengantongi pendanaan 750 juta dolar AS dengan valuasi 44 miliar dolar AS pada Juni lalu, untuk menarik pelanggan baru sekaligus memperluas jangkauan produk manajemen pengeluarannya.
Bagi perusahaan yang aktif menggunakan berbagai model AI dan ingin mengontrol biaya inferensi, Router menawarkan cara praktis untuk menguji dan membandingkan model dalam satu tempat. Namun ketersediaan yang masih terbatas di Amerika Serikat membuat pengguna di Indonesia perlu menunggu lebih lama.