BATAM – Rumah Sakit Badan Pengusahaan (RSBP) Batam resmi mencatatkan tonggak sejarah baru dalam layanan kesehatan di Kepulauan Riau. Untuk pertama kalinya di wilayah ini, RSBP Batam berhasil melakukan tindakan intervensi pada pasien Penyakit Jantung Bawaan (PJB) dewasa menggunakan metode non-bedah atau tanpa sayatan terbuka.
Layanan inovatif ini menjadi angin segar bagi masyarakat Kepri, mengingat sebelumnya penanganan kasus serupa pada pasien dewasa biasanya harus dirujuk ke rumah sakit nasional di Jakarta atau luar negeri.
Terobosan ini dilakukan melalui fasilitas catheterization laboratory (cathlab) yang canggih. Berbeda dengan operasi jantung konvensional yang memerlukan bedah dada, metode ini menggunakan kateterisasi yang jauh lebih minim risiko dan mempercepat masa pemulihan pasien.
Wakil Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RSBP Batam, dr. Muhammad Yanto, menjelaskan bahwa keunggulan layanan ini terletak pada kemampuan menangani kelainan jantung lintas usia.
"Jika sebelumnya layanan non-bedah kami fokus pada pasien anak, kini RSBP Batam telah memiliki kompetensi untuk menangani pasien di atas usia 18 tahun. Ini adalah layanan PJB dewasa non-invasif pertama di Kepulauan Riau," ungkap dr. Muhammad Yanto, Sabtu (7/2/2026).
Salah satu bukti keberhasilan layanan ini dirasakan oleh Nurdiana (22), pasien asal Tanjungpinang. Selama dua dekade, ia hidup tanpa menyadari adanya kelainan jantung hingga akhirnya terdeteksi melalui pemeriksaan rontgen rutin.
Dokter Spesialis Jantung RSBP Batam, dr. Priyandini Wulandari, menjelaskan bahwa tim medis melakukan tindakan penutupan patent ductus arteriosus dengan kateter. "Tindakan berjalan lancar tanpa operasi besar, dan pasien sudah diperbolehkan pulang dalam kondisi stabil," jelasnya.
Kehadiran layanan ini di Batam juga menjadi solusi atas tingginya antrean pasien jantung di pusat rujukan nasional. Dokter tamu ahli, Radityo Prakoso, Sp.JP(K), mengungkapkan tantangan besar di tingkat nasional.
"Di Jakarta saja, sekitar 6.000 bayi masih mengantre untuk penanganan jantung bawaan. Keterbatasan kapasitas membuat banyak pasien tidak tertangani optimal. Kehadiran layanan di RSBP Batam ini sangat strategis agar pasien daerah tidak lagi bergantung sepenuhnya pada pusat," ujar Radityo.
Ketua KSM Kardiologi RSBP Batam, Afdalun Hakim, SpJP, menambahkan bahwa angka kejadian PJB di Indonesia mencapai 8–10 kasus per 1.000 kelahiran hidup. Dengan dukungan jaminan BPJS Kesehatan, RSBP Batam kini siap melayani pasien dari kategori neonatus (bayi baru lahir) hingga dewasa secara mandiri.
Melalui program proctorship (pendampingan ahli), RSBP Batam berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas tenaga medis internal agar ke depan Batam dapat bertransformasi menjadi pusat rujukan regional penanganan jantung bawaan di wilayah Sumatera dan sekitarnya.