NATUNA — Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Natuna mulai memetakan kesiapan sekolah tingkat atas untuk menyandang predikat Sekolah Ramah Anak (SRA). Evaluasi ini menyasar SMA N 1 Bunguran Timur, SMA 2 Bunguran Timur, dan MAN Natuna sebagai kandidat awal percontohan di wilayah perbatasan tersebut.
Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Natuna, Sri Riawati menjelaskan bahwa monitoring dilakukan untuk menjamin hak anak terpenuhi secara optimal. Tim verifikasi meninjau langsung fasilitas serta pola interaksi di satuan pendidikan untuk memastikan lingkungan yang aman dan nyaman.
Proses verifikasi lapangan ini tidak dilakukan sendiri oleh DP3AP2KB. Pemkab Natuna menggandeng Kantor Kementerian Agama (Kemenag) serta melibatkan Bhabinkamtibmas Batu Hitam dan Bandarsyah untuk memvalidasi data evaluasi mandiri yang telah diisi oleh pihak sekolah.
Berdasarkan hasil pantauan di lapangan, sebagian besar sekolah yang dievaluasi diklaim telah menerapkan enam indikator utama SRA. Poin-poin tersebut menjadi acuan dasar apakah sebuah sekolah layak mendapatkan predikat ramah anak atau memerlukan pembinaan lebih lanjut.
"Hasil monev menunjukkan sebagian besar sekolah yang dievaluasi sudah menerapkan enam indikator SRA, mencakup kebijakan SRA, pembelajaran ramah anak, tenaga pendidik terlatih, sarana prasarana ramah anak, partisipasi anak, dan peran orang tua atau masyarakat," ujar Sri Riawati saat dikonfirmasi dari Natuna, Sabtu (9/5).
Selain aspek kebijakan dan tenaga pendidik, partisipasi aktif orang tua menjadi variabel krusial dalam penilaian ini. Tim verifikasi juga memetakan tingkatan predikat SRA yang mencakup kategori pratama, madya, nindya, utama, hingga SRA berstandar sebagai dasar pembinaan berkelanjutan.
Pemerintah daerah memproyeksikan sepuluh sekolah dari berbagai jenjang, mulai dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) hingga Sekolah Lanjutan Tingkat Atas (SLTA), untuk menjadi model percontohan resmi. Tahapan persiapan telah dimulai sejak Selasa (5/5) melalui pendistribusian asesmen mandiri ke tiap sekolah.
Setelah pengisian asesmen, tim gabungan turun langsung melakukan verifikasi faktual pada Jumat (8/5). Langkah ini diambil untuk memastikan data yang dilaporkan sekolah sesuai dengan kondisi riil di lingkungan belajar masing-masing.
Sri menegaskan bahwa seluruh hasil monitoring ini akan dirangkum sebagai bahan laporan resmi dan acuan perbaikan sarana pendidikan di Natuna. Fokus utamanya adalah menciptakan ekosistem pendidikan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga menjamin perlindungan menyeluruh bagi setiap siswa.