IHSG Anjlok 2,06 Persen ke 6.584, Rupiah Terperosok ke Rp 17.630 per Dolar AS, Bursa Asia Ikut Merah

Penulis: Maruli Sinaga  •  Senin, 18 Mei 2026 | 09:59:51 WIB
IHSG turun 2,06 persen ke posisi 6.584 pada pembukaan perdagangan Senin (18/5).

JAKARTA — Tekanan jual membayangi pasar saham domestik pada awal pekan ini. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) langsung terperosok ke zona merah saat perdagangan dibuka, Senin (18/5). Data Bloomberg menunjukkan, posisi indeks ambles 138,558 poin (2,06 persen) ke level 6.584,762, jauh dari level penutupan akhir pekan lalu.

Pada sesi preopening, tekanan sudah terlihat. IHSG tercatat turun 94,344 poin (1,40 persen) di level 6.628,976 sebelum akhirnya makin terperosok saat bel dibuka.

Rupiah Ikut Tertekan, Sentuh Level Terlemah

Di pasar valuta asing, rupiah tak kunjung menunjukkan tanda penguatan. Mengutip data Bloomberg pukul 09.00 WIB, kurs rupiah terhadap dolar AS berada di angka Rp 17.630. Angka ini mencerminkan pelemahan 33,00 poin atau 0,19 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Level tersebut menjadi catatan tersendiri bagi pelaku pasar. Pelemahan rupiah yang berkelanjutan kerap menjadi indikator meningkatnya permintaan dolar AS di tengah ketidakpastian global.

Bursa Asia Kompak Melemah, China Jadi Satu-satunya yang Hijau

Tekanan di pasar keuangan Indonesia sejalan dengan pergerakan bursa saham kawasan Asia yang mayoritas berada di zona merah. Indeks Nikkei 225 di Jepang menjadi yang paling terpuruk, ambles 625,902 poin (1,02 persen) ke level 60.783,398.

Indeks Hang Seng di Hong Kong juga tak luput dari aksi jual, turun 274,500 poin (1,06 persen) ke 25.688,230. Sementara itu, Indeks Straits Times di Singapura melemah 16,089 poin (0,32 persen) ke 4.972,990.

Di tengah lautan merah tersebut, Indeks SSE Composite di China justru mencatatkan penguatan tipis. Indeks acuan bursa Shanghai itu naik 2,399 poin (0,06 persen) ke 4.137,790.

Apa yang Membayangi Pasar Hari Ini?

Pelemahan IHSG dan rupiah pagi ini terjadi di tengah kekhawatiran pelaku pasar terhadap data ekonomi global. Para investor cenderung wait and see sembari mencermati arah kebijakan suku bunga acuan bank sentral AS.

Tekanan jual di pasar saham domestik diperkirakan masih akan berlanjut jika rupiah terus terdepresiasi. Sebab, pelemahan nilai tukar membuat investor asing enggan masuk, terutama pada aset berbasis rupiah seperti saham dan obligasi.

Reporter: Maruli Sinaga
Sumber: kumparan.com This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top