BATAM — Pengguna mobil listrik di Batam kini punya opsi pengisian daya yang jauh lebih cepat. PLN Batam baru saja mengoperasikan empat unit SPKLU (Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum) dengan teknologi ultra fast charging di sejumlah titik strategis kota.
General Manager PLN Batam, Nyanyang Haris Pratamura, mengatakan keempat unit tersebut mampu mengisi daya baterai mobil listrik dari kondisi kosong hingga 80 persen hanya dalam waktu sekitar 30 menit. Angka ini memangkas waktu pengisian secara signifikan dibandingkan SPKLU reguler yang bisa memakan waktu dua hingga tiga jam.
Empat titik baru itu tersebar di lokasi yang mudah diakses pengguna. Berdasarkan data yang diterima, dua unit ditempatkan di area publik dan dua unit lainnya di kantor pelayanan PLN Batam.
Dengan tambahan ini, total SPKLU yang dikelola PLN Batam kini mencapai 18 unit yang tersebar di 13 lokasi berbeda. Jumlah tersebut mencakup berbagai tipe, mulai dari medium charging hingga ultra fast charging.
Teknologi ultra fast charging bekerja dengan daya listrik yang jauh lebih besar, yakni 60 kW hingga 120 kW. Sebagai perbandingan, SPKLU tipe standar hanya menyuplai daya sekitar 7 kW hingga 22 kW. Semakin besar daya yang disalurkan, semakin cepat pula proses pengisian baterai kendaraan.
Nyanyang menjelaskan, penambahan ini merupakan respons terhadap pertumbuhan jumlah kendaraan listrik di Batam yang terus meningkat. “Kami melihat antusiasme masyarakat terhadap kendaraan listrik cukup tinggi. Infrastruktur pengisian harus mengimbangi agar pengguna tidak khawatir kehabisan daya di tengah perjalanan,” ujarnya.
PLN Batam menetapkan tarif pengisian untuk layanan ini sebesar Rp 2.466 per kWh. Pengguna dapat mengakses SPKLU melalui aplikasi PLN Mobile untuk mengecek ketersediaan unit, memesan slot pengisian, dan melakukan pembayaran secara digital.
Ke depan, PLN Batam berencana menambah jumlah SPKLU di kawasan industri dan jalur utama penghubung antarkota di Batam. Langkah ini sejalan dengan target pemerintah mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia, khususnya di wilayah kepulauan yang membutuhkan mobilitas rendah emisi.