Desa Beka Sulap Hutan Adat Ranjuri Jadi Destinasi Ekowisata Batik, Turis Brasil hingga Jepang Berdatangan

Penulis: Maruli Sinaga  •  Kamis, 09 Juli 2026 | 19:44:01 WIB
Wisatawan dari Brasil hingga Jepang belajar membatik dengan pewarna alami di Hutan Ranjuri, Desa Beka.

KEPULAUAN RIAU — Batik Valiri mengemas pengalaman wisata yang berbeda. Pengunjung diajak menyusuri Hutan Ranjuri, kawasan adat yang dijaga ketat oleh masyarakat Desa Beka. Di dalamnya, mereka diperkenalkan pada tanaman penghasil pewarna alami seperti daun rau, mangga, dan jati. Proses pewarnaan tradisional ini memakan waktu dan kesabaran—jauh dari metode instan.

Dari Daun Gugur Jadi Warna Estetik

Daun-daun yang sudah gugur dari pohon di Hutan Ranjuri dikumpulkan untuk dijadikan bahan pewarna batik. Praktik ini memastikan ekosistem hutan tidak terganggu. "Kami hanya mengambil daun yang sudah jatuh, jadi hutan tetap aman," begitu prinsip yang dipegang pengelola Batik Valiri.

Motif-motif batik yang dihasilkan sarat filosofi budaya Kaili. Pola taiganja misalnya, melambangkan kesuburan. Ada pula jejak megalitik Sigi yang merekam sejarah lokal. Setiap helai kain bukan sekadar produk, melainkan narasi identitas yang jarang ditemukan di batik lain.

Wisatawan Dunia Mulai Melirik Sigi

Berkat pendampingan Gampiri Interaksi, Batik Valiri berkembang menjadi destinasi ekowisata kelas dunia. Wisatawan dari Brasil dan Jepang tercatat pernah datang langsung untuk belajar membatik di tengah hutan. Mereka tidak hanya diajak praktik, tetapi juga memahami hubungan erat antara alam, budaya, dan ekonomi kreatif.

Bagi warga Desa Beka, Hutan Ranjuri adalah segalanya. Hutan seluas sembilan hektar itu menjadi sumber air bersih, penahan banjir di musim hujan, dan cadangan air di musim kemarau. Kini, hutan itu juga menjadi "pabrik" warna alami yang menghidupi ekonomi warga.

Batik Valiri: Bukti Ekonomi Kreatif dan Konservasi Berjalan Beriringan

Pengalaman yang ditawarkan bersifat autentik. Pengunjung bisa langsung membatik di tengah suasana hutan yang tenang, ditemani pemandu lokal yang menjelaskan setiap proses. Tidak ada kemasan wisata massal yang terburu-buru.

Batik Valiri membuktikan bahwa menjaga alam tidak harus mengorbankan pendapatan. Justru sebaliknya, kelestarian hutan adat menjadi modal utama untuk menarik wisatawan yang mencari pengalaman bermakna dan berkelanjutan. Desa Beka kini menjadi contoh konkret bagaimana ekowisata berbasis komunitas bisa bersaing di pasar global tanpa meninggalkan akar budayanya.

Reporter: Maruli Sinaga
Sumber: medcom.id This article was automatically rewritten by AI based on the source above without altering the facts of the original article.
Back to top