Provinsi Kepulauan Riau (Kepri) membentang dari perbatasan Singapura hingga Laut Natuna. Secara administratif, wilayah ini mencakup 7 kabupaten/kota dengan total 2.408 pulau. Dari jumlah itu, baru sekitar 30% yang berpenghuni. Sisanya adalah pulau-pulau kecil dengan ekosistem asli—surga bagi pencari ketenangan yang tidak suka keramaian Bali.
Yang membuat Kepri beda dari provinsi lain: akses internasional langsung dari Singapura dan Malaysia. Banyak turis asing sengaja terbang ke Batam atau Tanjung Pinang hanya untuk akhir pekan. Tapi warga lokal juga punya banyak opsi liburan tanpa perlu paspor. Berikut tujuh destinasi yang layak masuk daftar kunjungan Anda.
Pulau seluas 2,5 kilometer persegi ini menyimpan jejak Kesultanan Riau-Lingga. Di sini Anda bisa melihat Masjid Raya Sultan Riau yang dibangun pada 1832 tanpa menggunakan paku—hanya pasir, kapur, dan putih telur sebagai perekat. Masjid ini masih dipakai untuk salat Jumat hingga hari ini.
Tiket kapal feri dari Pelabuhan Sri Bintan Pura hanya Rp10.000 per orang. Perjalanan sekitar 15 menit. Di pulau, Anda bisa menyewa sepeda motor Rp50.000 per jam atau jalan kaki karena ukurannya kecil. Jangan lewatkan makam Raja Haji Fisabilillah, pahlawan nasional dari Riau. Tiket masuk pulau Rp5.000 per orang.
Garis pantai sepanjang 12 kilometer di pesisir timur Bintan ini punya pasir putih yang lebih halus dibanding pantai-pantai di Batam. Ombaknya tenang, cocok untuk keluarga dengan anak kecil. Pemandangan langsung menghadap Laut Natuna.
Tidak ada tiket masuk resmi—Anda cukup membayar parkir Rp5.000 untuk motor dan Rp15.000 untuk mobil. Banyak warung makan pinggir pantai yang menjual ikan bakar dengan harga Rp30.000–Rp50.000 per porsi. Kalau ingin menginap, ada resort kelas menengah mulai Rp400.000 per malam. Waktu terbaik datang pagi hari sebelum jam 09.00 WIB untuk menghindari terik.
Pulau ini masuk Kecamatan Galang, sekitar 45 menit naik perahu dari Pelabuhan Galang. Keistimewaannya: Anda bisa berenang langsung di atas karang mati (dead coral) yang membentuk kolam alami. Air lautnya jernih dengan gradasi biru toska. Spot snorkeling di sini lebih bagus dari kebanyakan spot di Batam karena arusnya tenang.
Harga sewa perahu nelayan dari Galang Rp300.000–Rp500.000 untuk 4–6 orang, sudah termasuk antar-jemput. Tidak ada penginapan di pulau ini, jadi Anda harus pulang sore. Bawa bekal makanan dan air minum sendiri karena tidak ada warung.
Kompleks vihara seluas 4,5 hektar di Sei Panas, Batam, ini menjadi salah satu ikon wisata religi Asia Tenggara. Patung Dewi Kwan Im setinggi 22 meter di sini adalah yang tertinggi di Indonesia. Arsitektur bangunan perpaduan Tionghoa, Thailand, dan Bali. Tempat ini ramai saat Tahun Baru Imlek dan Cap Go Meh.
Tidak dipungut biaya masuk. Parkir Rp5.000 untuk motor. Buka setiap hari pukul 06.00–18.00 WIB. Kalau Anda datang akhir pekan, siapkan waktu lebih karena pengunjung bisa mencapai 3.000 orang per hari. Lokasinya di Jalan Dato M. Nurdin, sekitar 30 menit dari Bandara Hang Nadim.
Pantai ini berjarak hanya 20 menit dari Pelabuhan Nongsa—pelabuhan utama kedatangan wisatawan dari Singapura. Pasir putihnya bersih, airnya tenang, dan pemandangan langsung ke Selat Singapura. Pada malam hari, Anda bisa melihat lampu kota Singapura dari kejauhan.
Tidak ada tiket masuk. Biaya parkir Rp10.000 untuk mobil. Di sekitar pantai banyak kafe dan restoran seafood. Kalau ingin bermalam, ada Nongsa Point Marina dengan tarif kamar mulai Rp600.000. Tips: hindari akhir pekan karena pengunjung bisa membludak, terutama warga Singapura yang liburan.
Pulau ini masuk gugusan Kepulauan Anambas, sekitar 3 jam perjalanan laut dari Kota Tarempa. Pulau Bawah adalah atol karang dengan laguna di tengahnya. Air lautnya sangat jernih—Anda bisa melihat ikan berenang di kedalaman 5 meter tanpa snorkeling. Spot ini sering masuk daftar pulau terindah versi majalah internasional.
Aksesnya tidak mudah. Dari Batam, Anda harus naik kapal cepat ke Tarempa (Rp350.000–Rp500.000, 6–8 jam), lalu lanjut perahu nelayan ke Pulau Bawah (Rp1 juta per trip untuk 4 orang). Ada resort eksklusif dengan tarif mulai Rp5 juta per malam. Alternatif: bawa tenda sendiri dan camping gratis di pantai, asal izin ke kepala desa setempat.
Kawasan pusat kota Tanjung Pinang di Kelurahan Penyengat dan sekitarnya menyimpan bangunan kolonial Belanda, klenteng tua, dan rumah panggung Melayu. Anda bisa jalan kaki menyusuri Jalan Merdeka dan Jalan Hang Tuah. Banyak toko emas dan kain songket khas Riau yang dijual dengan harga lebih murah dari Jakarta.
Tidak ada tiket masuk. Waktu terbaik jalan-jalan pagi hari sekitar pukul 07.00–10.00 WIB karena udara masih sejuk. Coba nasi lemak di warung pinggir jalan—porsinya besar dengan harga Rp15.000. Kalau ingin oleh-oleh, beli kerupuk gonggong (sejenis siput laut) khas Tanjung Pinang yang dijual mulai Rp30.000 per kilogram.
1. Apa destinasi paling murah di Kepri untuk backpacker?
Pulau Penyengat di Tanjung Pinang. Total biaya: Rp15.000 untuk feri dan tiket masuk. Anda bisa habiskan setengah hari di sana tanpa keluar uang banyak.
2. Kapan waktu terbaik liburan ke Kepri?
Maret–Oktober adalah musim kemarau. Hindari November–Februari karena angin utara membawa ombak besar dan hujan deras, terutama untuk perjalanan laut ke Anambas atau Natuna.
3. Apakah perlu visa untuk warga Indonesia ke Kepri?
Tidak. Kepri adalah wilayah NKRI. Warga Indonesia cukup membawa KTP atau KK. Untuk warga asing, Batam dan Bintan bebas visa kunjungan 30 hari.
4. Bagaimana akses ke Anambas dari Jakarta?
Tidak ada penerbangan langsung. Alternatif: terbang dari Jakarta ke Batam (1,5 jam), lalu lanjut kapal cepat ke Tarempa. Total waktu perjalanan sekitar 10–12 jam.
5. Apa oleh-oleh khas Kepri yang wajib dibeli?
Kerupuk gonggong, kain songket Riau, madu sialang dari Lingga, dan ikan asin jambal roti. Semua tersedia di Pasar Baru Tanjung Pinang.
Kepulauan Riau menawarkan variasi wisata yang sulit ditandingi provinsi lain: dari sejarah Melayu di Pulau Penyengat, keindahan bawah laut Anambas, hingga kemudahan akses dari Singapura. Tidak perlu biaya besar atau perencanaan rumit. Pilih satu destinasi, siapkan perjalanan, dan nikmati langsung. Sebab pengalaman di lapangan selalu lebih kaya dari foto atau video mana pun.