KEPULAUAN RIAU — Kepala Dinas KPKP DKI Jakarta, Hasudungan Sidabalok, mengungkapkan bahwa pergerakan harga pangan strategis secara mingguan masih terkendali. Kenaikan hanya terjadi pada beras dan berada di bawah satu persen. “Perkembangan harga pangan strategis antar minggu di Provinsi DKI Jakarta menunjukan kenaikan kurang dari 1 persen pada beberapa komoditas pangan,” ujarnya dalam keterangan resmi, Jumat (16/7).
Kenaikan harga tercatat pada beras IR III (medium) yang naik 0,57 persen atau Rp79 per kilogram, dari Rp13.793 menjadi Rp13.872 per kilogram. Sementara beras IR I (premium) ikut naik 0,31 persen atau Rp47 per kilogram, dari Rp15.439 menjadi Rp15.486 per kilogram.
Meski kenaikannya tipis, pergerakan ini patut dicermati mengingat beras merupakan komoditas pokok yang sensitif terhadap daya beli warga Jakarta. Biasanya, tekanan harga beras mulai terasa saat musim panen raya usai atau distribusi dari sentra produksi tersendat.
Berbeda dengan beras, harga komoditas hortikultura justru mengalami penurunan signifikan. Penurunan terdalam terjadi pada cabai merah yang ambrol 8,70 persen atau Rp5.069 per kilogram, dari Rp58.289 menjadi Rp53.220 per kilogram. Cabai rawit merah juga turun 7,33 persen atau Rp4.808 per kilogram, dari Rp65.639 menjadi Rp60.830 per kilogram.
Tak hanya cabai, bawang merah juga ikut melandai. Harganya turun 3,89 persen atau Rp2.084 per kilogram, dari Rp53.527 menjadi Rp51.443 per kilogram. Sementara itu, harga telur ayam masih stabil di angka Rp26.829 per kilogram.
Hasudungan menambahkan, penurunan harga ini mencerminkan bahwa pasokan sayuran dan bumbu dapur dari daerah pemasok masih melimpah. “Komoditas pangan strategis yang mengalami penurunan harga sampai dengan relatif stabil antar minggu adalah komoditas hortikultura dan telur ayam,” jelasnya.
Dengan kondisi ini, warga Jakarta yang selama beberapa pekan terakhir mengeluhkan harga cabai yang sempat melambung, kini bisa sedikit bernapas lega. Fluktuasi harga pangan di pasar induk seperti Jakarta kerap menjadi indikator awal stabilitas pasokan nasional. Jika pasokan dari sentra produksi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur lancar, harga di tingkat konsumen biasanya ikut terkendali.