KEPULAUAN RIAU — Kepala BPH Migas, Erika Retnowati, turun langsung ke lapangan memantau titik-titik distribusi di wilayah Medan dan sekitarnya. Dalam keterangannya, ia menegaskan bahwa pihaknya tidak akan mentolerir hambatan distribusi yang merugikan konsumen.
Pantauan di beberapa SPBU di kawasan Medan, Senin (15/4), menunjukkan antrean kendaraan roda empat dan roda dua mulai berkurang drastis dibandingkan pekan lalu. Seorang pengemudi angkutan kota, Andi (42), mengaku baru bisa mengisi solar setelah menunggu selama 20 menit—jauh lebih cepat dari sebelumnya yang bisa mencapai dua jam.
“Kemarin sampai ngantre dari subuh, sekarang sudah lumayan. Semoga terus begini,” ujarnya saat ditemui di SPBU Jalan Sisingamangaraja.
Erika menjelaskan bahwa tim pengawas telah diterjunkan ke 30 titik rawan antrean di Sumatera Utara. Pengawasan difokuskan pada SPBU yang sebelumnya mencatat lonjakan permintaan, terutama di jalur lintas Sumatera dan kawasan industri.
“Kami minta Pertamina Patra Niaga memastikan jadwal pengiriman BBM tepat waktu. Tidak boleh ada alasan teknis yang membuat masyarakat menunggu terlalu lama,” tegas Erika dalam konferensi pers di Medan, Minggu (14/4).
Regional Manager Pertamina Patra Niaga Sumbagut, Dwi Prasetyo, mengakui adanya peningkatan konsumsi BBM sebesar 15 persen dalam sepekan terakhir, dipicu oleh aktivitas mudik dan distribusi logistik menjelang libur panjang. Pihaknya mengklaim stok BBM jenis solar dan pertalite dalam kondisi aman untuk 12 hari ke depan.
“Kami menambah 10 unit mobil tangki untuk rute pengiriman ke SPBU yang mengalami keterlambatan. Target kami, seluruh antrean selesai dalam dua hari ke depan,” ujar Dwi.
BPH Migas mengimbau masyarakat tidak melakukan pembelian berlebihan yang justru memperparah antrean. Erika menambahkan bahwa pihaknya akan menjatuhkan sanksi tegas jika ditemukan SPBU yang menimbun BBM atau menjual di atas harga eceran tertinggi (HET).
“Kami buka posko pengaduan 24 jam. Jika ada indikasi pelanggaran, laporkan langsung,” pungkasnya.
Kondisi ini menjadi pengingat betapa rapuhnya rantai distribusi BBM di daerah yang bergantung pada pasokan dari kilang Dumai dan Sei Pakning. Ke depan, BPH Migas mendorong Pertamina untuk memperkuat sistem monitoring digital guna mencegah kejadian serupa terulang.