BATAM — Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Batam, Kepulauan Riau, kini mewajibkan setiap penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG) terdaftar melalui sistem digital berbasis NIK. Langkah ini diambil untuk menyaring data ganda yang kerap terjadi saat peserta didik pindah sekolah atau ketika penerima dari kelompok balita beralih status menjadi anak sekolah.
Koordinator Wilayah SPPG Batam Defri Frenaldi mengatakan pendataan menggunakan NIK menjadi syarat mutlak sebelum peserta bisa mendapatkan jatah MBG. Data penerima dimasukkan ke dalam Sistem Manajemen Operasional (SMO) milik Badan Gizi Nasional (BGN).
"Data penerima manfaat didaftarkan menggunakan NIK ke sistem SMO milik BGN. Penerima yang sudah terdaftar itulah yang bisa diberikan MBG dan dimasukkan dalam pelaporan. Kalau belum terdata, tidak bisa dipertanggungjawabkan," kata Defri saat dihubungi di Batam, Selasa.
Defri menjelaskan, proses pendataan dilakukan oleh pihak sekolah dan pos pelayanan terpadu (posyandu). Kedua lembaga itu menyerahkan daftar NIK penerima manfaat kepada SPPG yang melayani wilayah mereka. Selanjutnya, petugas SPPG yang akan menginput data tersebut ke dalam sistem SMO.
"Jadi pihak sekolah, maupun pihak posyandu, mereka memberi data penerima manfaat yakni NIK kepada SPPG yang melayani mereka. Lalu pihak SPPG yang akan menginput data tersebut di sistem SMO," ujarnya.
SPPG tidak menetapkan batas waktu bagi sekolah maupun posyandu untuk menyerahkan data. Konsekuensinya, jika data belum diberikan, maka sekolah atau posyandu tersebut belum bisa dilayani. "SPPG hanya melayani sekolah dan posyandu yang sudah didaftarkan. Kalau datanya belum diberikan, maka belum bisa dilayani," tegas Defri.
Defri memperkirakan jumlah penerima MBG pada awal tahun ajaran baru akan mengalami penurunan sementara. Hal ini disebabkan oleh dua faktor: pertama, pendataan yang kini diperketat dengan sistem SMO, dan kedua, sebagian sekolah belum memberikan data peserta didik baru kepada SPPG.
"Untuk sementara jumlahnya sepertinya menurun karena pendataan penerima manfaat sekarang diperketat dengan sistem SMO ini. Selain itu, sebagian sekolah juga belum memberikan data peserta didik baru kepada SPPG," katanya.
Sebelum libur sekolah, program MBG di Batam telah menjangkau 257.421 pelajar, 51.030 penerima dari kelompok 3B, serta 17.399 guru. Defri optimistis angka tersebut akan kembali tercapai atau bahkan bertambah setelah seluruh sekolah dan posyandu menyelesaikan proses pendataan.
Meski ada penyesuaian data, Defri memastikan seluruh SPPG di Batam tetap beroperasi pada awal masuk sekolah. Layanan MBG berjalan seperti biasa, namun ada perubahan pada jadwal distribusi makanan yang mengikuti waktu kegiatan belajar di masing-masing sekolah, termasuk selama Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS).