KEPULAUAN RIAU — Akun Instagram Lapor Iklim (@laporiklim) meluncurkan kampanye foto profil berkabut lewat situs fotokitablur.app untuk menjaga perhatian publik terhadap krisis karhutla dan kabut asap di Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Papua. Situs berbasis browser itu memungkinkan pengguna mengunggah foto, mengatur intensitas asap, lalu mengunduhnya untuk dipakai di Instagram dan Threads. Kampanye hadir saat isu karhutla berisiko tenggelam dari perbincangan meski dampaknya masih dirasakan warga.
Lapor Iklim menyebut kampanye foto profil berkabut sebagai cara agar persoalan kebakaran hutan dan lahan tidak hilang dari perhatian publik. Ajakan disampaikan lewat unggahan Instagram dengan kalimat "Buat Foto Kita Blur agar Bencana Terlihat Jelas".
Alih-alih sekadar imbauan di media sosial, kampanye menyediakan alat konkret berupa situs fotokitablur.app. Pengguna bisa mengubah foto profil sendiri menjadi tampak tertutup asap, lalu memasangnya di Instagram, Threads, dan platform lain.
Situs ini bekerja langsung di browser ponsel maupun komputer, tanpa perlu memasang aplikasi tambahan. Pengguna mengunggah foto, lalu mengatur intensitas asap, kontras, dan posisi gambar sesuai selera.
Ada pula fitur penghapusan latar belakang otomatis yang bisa diaktifkan. Setelah tampilan dirasa pas, hasil foto berkabut diunduh ke perangkat untuk dipakai sebagai foto profil.
Lapor Iklim membagikan panduan langkah demi langkah bagi warganet yang ingin ikut serta:
Karhutla dan kabut asap masih menyelimuti sejumlah wilayah, terutama Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, dan Papua. Dampaknya dirasakan langsung warga, mulai dari gangguan pernapasan hingga aktivitas harian yang terhambat.
Lapor Iklim menulis, "Jangan biarkan krisis ini redup sebelum api benar-benar padam, sebelum para warga dan makhluk hidup bisa kembali bernapas lega." Pesan itu menyoroti kecenderungan perhatian publik berpindah saat krisis berlangsung lama.
Foto profil berkabut berfungsi sebagai penanda solidaritas sekaligus pengingat visual yang muncul setiap kali akun berinteraksi di media sosial. Efeknya berbeda dari unggahan biasa yang cepat tenggelam oleh algoritma.
Pola kampanye semacam ini bukan hal baru di jagat media sosial. Sebelumnya, warganet kerap memakai bingkai foto atau filter khusus untuk menyuarakan isu lingkungan dan bencana.
Yang membedakan, kali ini ada situs khusus yang menyederhanakan proses pengeditan. Pengguna tanpa keterampilan desain tetap bisa membuat foto berkabut dalam hitungan menit lewat ponsel.
Bagi pelaku bisnis digital, kasus ini memperlihatkan bagaimana alat sederhana berbasis web bisa mendorong partisipasi publik pada isu tertentu. Model serupa berpotensi diadaptasi untuk kampanye sosial lain yang butuh keterlibatan massal.
Kampanye foto profil berkabut masih berjalan selama karhutla dan kabut asap belum tertangani. Situs fotokitablur.app terbuka bagi siapa pun yang ingin ikut menyuarakan isu ini lewat foto profil media sosialnya.