TANJUNGPINANG — GERAM Kepri menilai tanjak bukan sekadar penutup kepala, melainkan simbol identitas, adab, dan jati diri masyarakat Melayu yang perlu diwariskan ke generasi berikutnya. Lewat program "Jumat Bertanjak", organisasi ini ingin membiasakan generasi muda mengenakan sekaligus memahami filosofi dan aturan pemakaiannya.
Pertemuan di ruang kerja Kadister Koarmada I itu juga dihadiri Bidang Budaya GERAM Kepri Deni Jebat dan anggota GERAM, Yudi. Aryandi menegaskan pelestarian budaya tidak cukup dilakukan lewat seremoni.
Mengapa Tanjak Perlu Gerakan Nyata, Bukan Sekadar Seremoni
Aryandi menilai edukasi dan gerakan nyata diperlukan agar masyarakat, khususnya generasi muda, bangga mengenakan serta memahami budayanya sendiri. Tanjak disebutnya kian tergerus perkembangan zaman.
Kolaborasi dengan dinas kebudayaan provinsi dan kota menjadi salah satu jalan agar penggunaan tanjak semakin dikenal di lingkungan masyarakat, bukan hanya dalam acara adat.
Kolonel Marinir Achmad Yulianto: Generasi Penerus Wajib Meluruskan
Kadister Koarmada I Kolonel Marinir Achmad Yulianto menegaskan pelestarian tanjak membutuhkan keterlibatan generasi penerus. Menurutnya, warisan budaya Melayu berisiko kehilangan makna dan identitasnya di tengah arus modernisasi.
"Generasi penerus berkewajiban meluruskan dan melestarikan budaya tanjak agar tidak luntur dan hilang terkikis budaya modern yang terkadang tidak sejalan dengan kearifan lokal Nusantara," tegas Achmad Yulianto.
7 Jenis Tanjak Melayu yang Diperkenalkan dalam Silaturahmi
Dalam pertemuan itu, Deni Jebat memaparkan filosofi, adab, dan aturan pemakaian tanjak. Sejumlah jenis tanjak Melayu yang diperkenalkan antara lain:
- Takur Tukang Besi
- Nakhoda Trong
- Mahkota Alam
- Anjudan Bingas
- Anderiguru Selebu
- Bugis Tak Balik
- Cogan Daun Kopi
Deni juga memperagakan cara mengikat kain samping beserta makna setiap ikatan. Edukasi itu menegaskan busana tradisional Melayu memiliki aturan dan nilai adat yang perlu dipahami dengan benar, bukan sekadar dikenakan.
Harapan Sinergi dengan Dinas Kebudayaan Kepri dan Tanjungpinang
GERAM Kepri berharap sinergi dengan berbagai pihak melahirkan langkah konkret dan berkelanjutan untuk menjaga warisan leluhur. Program "Jumat Bertanjak" ditargetkan menyasar lingkungan masyarakat luas, termasuk sekolah dan instansi, agar tanjak tidak hanya muncul saat perayaan adat.
Bagi GERAM Kepri, tanjak adalah penanda jati diri Melayu yang harus tetap hidup di tengah perubahan zaman. Pelestariannya dinilai menuntut keterlibatan aktif generasi muda, bukan sekadar pewarisan simbol.