KEPULAUAN RIAU — Kenaikan harga Pertamax dan Pertamax Green yang berlaku sejak Rabu (10/6) bukan keputusan mendadak. Pertamina Patra Niaga mengungkapkan, harga acuan BBM RON 92 di pasar global sudah mencapai kisaran Rp 20.000 hingga Rp 21.000 per liter. Angka ini jauh di atas harga jual Pertamax yang sebelumnya ditahan di Rp 12.300 per liter selama berbulan-bulan.
“RON 92 itu kalau di market harganya udah Rp 20 ribu–Rp 21 ribu-an. Di Thailand, RON 92 itu, RON 91 itu Rp 23 ribuan kalau dikonversi ke rupiah,” ujar Vice President Commercial & Shipping Business Development Pertamina Patra Niaga, Sigit Setiawan, Rabu (11/6).
Batas Atas Harga Melonjak Drastis sejak April
Data internal Pertamina menunjukkan batas atas harga Pertamax meroket dalam tiga bulan terakhir. Pada April 2026, batas atas mencapai Rp 18.745 per liter, naik dari Rp 12.397 per liter pada Maret. Lonjakan berlanjut ke Rp 20.157 per liter pada Mei, dan mencapai Rp 20.942 per liter pada Juni 2026.
Perhitungan ini mengacu pada Harga Indeks Pasar (HIP) dan nilai tukar rupiah sesuai formula BBM jenis bahan bakar umum (JBU). Sigit menjelaskan, gejolak geopolitik global sejak akhir Februari 2026 menjadi pemicu utama kenaikan harga energi dunia.
Menahan Harga Berbulan-bulan, Kini Pasokan Jadi Prioritas
Pertamina mengaku sudah berusaha menahan harga Pertamax di Rp 12.300 per liter selama beberapa bulan. Namun, semakin lebar jarak antara harga jual dan biaya pengadaan membuat perusahaan kesulitan mengimpor BBM dalam jumlah yang dibutuhkan.
“Kami masih tahan, masih berupaya menahan di Rp 12.300 per liter. Pertamax Green juga seperti itu. Meskipun akhirnya, dua produk itu per hari ini, kami naikkan,” kata Sigit.
Ia menegaskan, penyesuaian harga bukan sekadar soal keuntungan, melainkan untuk menjaga ketersediaan stok energi nasional. “Kami tidak ingin kondisinya terus-terusan seperti ini, sehingga ketersediaan produk energi di masyarakat akan menurun. Ketika ada puncak permintaan, kondisi ini akan menjadi masalah,” ujarnya.
Setelah berdiskusi dengan pemerintah, Pertamina memutuskan menaikkan harga kedua produk nonsubsidi tersebut. “Kami ingin memberikan pesan bahwa ini memang perlu naik karena kondisinya harus kami pastikan terkait dengan ketersediaan suplai di market,” pungkas Sigit.