TANJUNGPINANG — Pulau Penyengat, salah satu ikon sejarah Melayu di Kepulauan Riau, kembali menjadi pusat perhatian dalam agenda diplomasi kawasan perbatasan. Delegasi Sosek Malindo Johor yang dipimpin langsung oleh Dato’ Ab Rahaman Bin Arsad menyempatkan diri menyusuri situs-situs bersejarah di pulau tersebut, mulai dari Masjid Raya Sultan Riau hingga kompleks makam Kesultanan Riau-Lingga.
Masjid Abad ke-19 dan Makam Kesultanan Jadi Titik Utama
Rombongan disambut oleh Kepala Badan Pengelola Perbatasan Daerah (BPPD) Provinsi Kepri Doli Boniara, Sekda Kota Tanjungpinang Zulhidayat, serta jajaran Direktorat Polairud Polda Kepri. Agenda pertama adalah mengunjungi Masjid Raya Sultan Riau Penyengat yang berdiri sejak abad ke-19. Delegasi berkesempatan melihat langsung arsitektur unik masjid yang menjadi saksi bisu peradaban Melayu di Asia Tenggara.
Setelah itu, kunjungan berlanjut ke kompleks pemakaman tokoh-tokoh Kesultanan Riau-Lingga. Para tamu mendapat penjelasan rinci mengenai peran strategis Pulau Penyengat dalam perjuangan dan perkembangan budaya Melayu. Kegiatan ditutup dengan singgah di Balai Adat Pulau Penyengat untuk menyaksikan tradisi dan adat istiadat yang masih dirawat hingga kini.
“Pulau Penyengat Punya Daya Tarik Sangat Kuat”
Dato’ Ab Rahaman mengaku terkesan dengan kekayaan sejarah yang terpelihara di pulau seluas kurang lebih 2,5 kilometer persegi itu. Menurutnya, Pulau Penyengat bukan hanya aset bagi Indonesia, tetapi juga bagi masyarakat Melayu di Semenanjung Malaysia.
“Kunjungan ini memberi peluang kepada kami untuk melihat secara dekat warisan sejarah yang menjadi kebanggaan masyarakat Melayu. Pulau Penyengat menyimpan banyak nilai yang perlu terus dipelihara dan diperkenalkan kepada generasi muda,” ujarnya dalam keterangan yang diterima, Rabu.
Ia menambahkan, hubungan antara Johor dan Kepri telah terjalin lama melalui ikatan budaya, bahasa, dan sejarah yang identik. “Kami melihat banyak persamaan dan kedekatan antara masyarakat Johor dan Kepulauan Riau. Hubungan serumpun ini perlu terus dipererat melalui pelbagai bentuk kerjasama dan pertukaran budaya,” kata Dato’ Ab Rahaman.
Potensi Wisata Lintas Batas yang Belum Tergarap Maksimal
Dari sisi pariwisata, Dato’ Ab Rahaman menilai Pulau Penyengat memiliki daya tarik besar untuk menarik kunjungan wisatawan Malaysia. “Saya melihat Pulau Penyengat mempunyai daya tarikan yang sangat kuat, bukan sahaja kepada masyarakat Indonesia malah juga kepada masyarakat Malaysia yang ingin mengenali sejarah Melayu dengan lebih dekat,” ucapnya.
Ia mengapresiasi upaya pelestarian situs bersejarah yang dilakukan pemerintah dan masyarakat setempat. Menurutnya, warisan seperti ini merupakan aset berharga yang mampu menjaga identitas budaya di tengah arus modernisasi.
Pemprov Kepri: Sinergi Perbatasan Harus Diperkuat di Semua Sektor
Kepala BPPD Provinsi Kepri Doli Boniara menyambut positif kunjungan tersebut. Ia menilai kegiatan ini menjadi bukti eratnya hubungan masyarakat serumpun yang telah terjalin selama ini.
“Kunjungan ini menjadi momentum untuk mempererat hubungan antara Kepulauan Riau dan Johor, sekaligus memperkenalkan kekayaan sejarah dan budaya Melayu yang kita miliki bersama,” jelas Doli.
Ia berharap kerja sama yang terjalin melalui forum Sosek Malindo dapat terus diperkuat di berbagai sektor, mulai dari sosial, ekonomi, keamanan, hingga pelestarian budaya. “Sinergi yang telah terbangun harus terus ditingkatkan demi memberikan manfaat bagi kedua wilayah,” tutupnya.
Kunjungan ini turut didampingi oleh Direktur Polairud Polda Kepri Kombes Pol Ade Mulyana dan Kasubdit Patroli Ditpolairud Polda Kepri Kompol Efendri Alie.