Nama Pulau Penyengat lahir dari kisah unik. Menurut cerita masyarakat, pulau ini awalnya menjadi tempat persinggahan nelayan dan pelaut untuk mengambil air bersih. Suatu ketika, mereka diserang kawanan lebah atau serangga yang menyengat—sejak saat itu, pulau tersebut dikenal sebagai Pulau Penyengat.
Dalam memori kolektif masyarakat Melayu, pulau ini juga disebut Pulau Mas Kawin. Sebab, dipercaya sebagai mas kawin yang diberikan Sultan Mahmud Syah III kepada permaisurinya, Engku Puteri Raja Hamidah. “Sejak saat itu Pulau Penyengat menjadi pusat penting Kesultanan Riau-Lingga. Hingga hari ini kita masih dapat menyaksikan berbagai peninggalan sejarah yang terus kita lestarikan bersama,” jelas Ansar saat menjadi narasumber dalam program Jurnal Nusantara Kompas TV, Sabtu (4/7/2026).
Masjid Sultan Riau dan Warisan Arsitektur Cerdas
Salah satu peninggalan paling ikonik adalah Masjid Sultan Riau Pulau Penyengat. Bangunan ini didirikan menggunakan campuran pasir, kapur, dan putih telur sebagai perekat. “Masjid Sultan Riau menjadi simbol kejayaan peradaban Melayu. Bangunan bersejarah ini tetap kokoh berdiri dan menjadi bukti kecerdasan arsitektur masyarakat Melayu pada zamannya,” ucap Ansar.
Pulau ini bahkan dijuluki Pulau Penyair karena tradisi literasi yang tumbuh kuat sejak abad ke-19. Sebuah percetakan telah berdiri di sana sejak tahun 1886, tempat para bangsawan, ulama, hingga kaum perempuan aktif menulis dan menghasilkan ratusan manuskrip.
Raja Ali Haji dan Kontribusi pada Bahasa Indonesia
Tokoh terbesar dari Pulau Penyengat adalah Raja Ali Haji, yang telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional. Melalui karya monumentalnya—Gurindam Dua Belas, Kitab Pengetahuan Bahasa (kamus bahasa Melayu modern pertama), serta Tuhfat al-Nafis—ia memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan bahasa Melayu yang kemudian menjadi dasar Bahasa Indonesia.
“Bahasa Melayu yang berkembang di Kepri inilah yang kemudian dipilih sebagai bahasa persatuan bangsa Indonesia. Sifatnya terbuka, mudah dipelajari, dan telah digunakan sebagai bahasa komunikasi antardaerah sejak ratusan tahun lalu,” jelas Ansar.
Monumen Bahasa Nasional: Pusat Edukasi dan Penggerak Ekonomi Baru
Sebagai bentuk komitmen melestarikan sejarah, Pemerintah Provinsi Kepri kini membangun Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat di atas lahan seluas sekitar dua hektare. Pembangunan ini bertujuan menjadikan Pulau Penyengat sebagai pusat sejarah perkembangan Bahasa Indonesia sekaligus sarana edukasi, literasi, dan penguatan wawasan kebangsaan.
“Monumen Bahasa Nasional ini diharapkan menjadi media pembelajaran yang representatif mengenai sejarah perkembangan Bahasa Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Pulau Penyengat sebagai destinasi wisata sejarah dan budaya bertaraf nasional,” tutur Ansar.
Menurutnya, pembangunan kawasan tersebut juga akan memberikan dampak ekonomi yang besar bagi masyarakat. Sektor pariwisata diprediksi meningkat, UMKM akan berkembang, dan fiskal daerah—khususnya Kota Tanjungpinang dan Provinsi Kepulauan Riau—diharapkan ikut menguat. “Kita ingin Pulau Penyengat tidak hanya dikenang sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga menjadi pusat pembelajaran yang terus hidup,” pungkasnya.