TANJUNGPINANG — Kepala DPK Kepri, Moh Bisri, menyatakan pihaknya tengah mengupayakan agar naskah-naskah bersejarah dari Pulau Penyengat dan karya sastra penulis lokal mendapat pengakuan dunia. “Karya penulis lokal akan kita lindungi menjadi ingatan kolektif nasional atau Memory of the World sebagai warisan dunia,” ujarnya kepada hariankepri.com, beberapa waktu lalu.
Bahasa Melayu Pulau Penyengat Jadi Akar Bahasa Indonesia
Bisri menjelaskan, Bahasa Melayu yang lahir dan berkembang dari Pulau Penyengat menjadi salah satu fondasi utama terbentuknya Bahasa Indonesia. Sejumlah peneliti asing, termasuk dari Belanda, pernah meneliti tata bahasa Melayu karya Raja Ali Haji sebagai rujukan utama.
“Bahasa Indonesia itu sangat dinamis. Untuk merunut sejarah perjalanannya secara detail memang butuh kajian ahli,” jelas Bisri.
Dukungan untuk Monumen Bahasa Nasional di Kepri
Selain pengajuan naskah ke Memory of the World, DPK Kepri juga mendorong pembangunan Monumen Bahasa Nasional di wilayah Kepulauan Riau. Bisri mengusulkan agar monumen tersebut tidak hanya menjadi simbol sejarah, tetapi juga dilengkapi perpustakaan.
“Mudah-mudahan di dalamnya ada bentuk literasi, sehingga Monumen Bahasa itu tidak hanya sekadar sejarah,” pungkasnya.