BATAM — Batam memiliki dua entitas pemerintahan yang bekerja dalam ruang pembangunan yang sama. Alih-alih menjadi alasan untuk berjalan sendiri-sendiri, Amsakar Achmad justru menegaskan keberadaan Pemko Batam dan BP Batam harus saling menguatkan.
Semangat itu ia sebut sebagai “rasa Ber-Kita”, sebuah cara pandang bahwa seluruh aparatur berada dalam satu rumah besar bernama Batam. Menurutnya, tidak boleh ada sekat yang membuat satu institusi merasa lebih tinggi dari institusi lain.
Dua Entitas, Satu Rumah Besar
Amsakar mengingatkan bahwa sinergi tidak cukup hanya diwujudkan lewat rapat atau koordinasi antarpimpinan. Rasa memiliki terhadap Batam harus tumbuh hingga jajaran aparatur paling bawah.
“Jangan ada ego sektoral. Jangan merasa yang satu lebih hebat dan yang lain lebih rendah, atau sebaliknya. Kita harus melihat Batam sebagai rumah besar kita semua,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar setiap bagian tidak saling bertepuk tangan ketika bagian lain menghadapi persoalan. “Kalau satu bagian sakit, bagian yang lain juga harus merasa sakit. Jangan ketika ada persoalan di satu bagian, yang lain justru bertepuk tangan. Rasa kita harus dibangun,” ujarnya.
Sinergi Hingga ke Jajaran Bawah
Amsakar menilai semangat ini penting agar kedua institusi tidak terjebak pada batas-batas kewenangan masing-masing. Sebab, masyarakat tidak melihat pembangunan berdasarkan sekat kelembagaan, melainkan dari hasil yang mereka rasakan.
Karena itu, ia meminta seluruh jajaran memastikan bahwa program dan pekerjaan yang sedang berjalan benar-benar menyentuh kebutuhan warga. Bukan sekadar laporan administratif di atas kertas.
Akhir Tahun: Pencapaian Jangan Hanya “Sekian Persen”
Memasuki penghujung tahun, Amsakar meminta setiap organisasi melakukan monitoring langsung ke lapangan. Menurutnya, laporan administratif saja tidak cukup untuk mengukur keberhasilan sebuah program.
“Lakukan monitoring ke lapangan, lakukan kontrol, lihat apa persoalannya. Jangan sampai di akhir tahun baru diketahui pencapaiannya ternyata hanya sekian persen,” katanya.
Untuk pekerjaan yang sudah masuk kontrak, ia meminta pengawalan serius. Amsakar tidak ingin pekerjaan yang seharusnya selesai justru tertunda karena lemahnya pengawasan. Baginya, pembangunan tidak semata-mata soal besarnya anggaran, melainkan bagaimana anggaran itu diterjemahkan menjadi pekerjaan selesai dan manfaat yang dirasakan masyarakat.
Integritas Aparatur dan Informasi yang Utuh
Amsakar juga mengingatkan aparatur kedua institusi untuk berhati-hati di tengah keterbukaan informasi. Perilaku seorang aparatur kini mudah menjadi perhatian publik, sehingga menjaga nama baik institusi tidak bisa dipisahkan dari integritas pribadi.
Ia meminta jajaran komunikasi pemerintah memperkuat kolaborasi dalam menyampaikan informasi. Informasi yang tidak utuh, kata dia, berpotensi menimbulkan persepsi berbeda di tengah masyarakat.
“Kritik itu penting supaya ada informasi yang berimbang. Tetapi kalau berbicara tidak benar, itu yang menyakitkan,” ujarnya.
Oleh karena itu, ia mendorong jajaran terkait duduk bersama dan memperkuat penyampaian informasi melalui kanal resmi pemerintah, agar masyarakat memahami persoalan secara utuh.
Rasa Memiliki Kunci Jawab Kepercayaan Publik
Pada akhirnya, pesan Amsakar bermuara pada satu hal: rasa memiliki. Pemko Batam dan BP Batam boleh memiliki struktur, tugas, dan kewenangan berbeda, tetapi ketika berbicara tentang Batam, keduanya berada di rumah yang sama.
“Cara kita membalas kepercayaan itu adalah dengan bekerja optimal dan mempersembahkan kerja keras,” pungkasnya.