KEPULAUAN RIAU — Trump mengungkapkan ancaman tersebut pada Jumat (4/9/2026) waktu setempat, sehari setelah Wakil Presiden JD Vance menyebut konflik dengan Iran sebagai "konflik militer", bukan perang. Gunung Pickaxe, yang terletak di dekat fasilitas pengayaan uranium Natanz yang rusak akibat serangan sebelumnya, memiliki dua kompleks terowongan bawah tanah yang menurut AS menjadi lokasi aktivitas nuklir rahasia Iran. Pemerintah Teheran telah membantah keras tuduhan tersebut.
"Kita mungkin akan menyerang Pickaxe segera. AS mengetahui semua orang yang bergerak di Pickaxe dan di seluruh Iran," ujar Trump kepada wartawan, dilansir Anadolu Agency, Sabtu (5/9/2026).
Mengapa Gedung Putih Mengecilkan Skala Konflik
Pernyataan Trump yang meremehkan konflik ini dinilai politis. Dengan kenaikan harga bahan bakar yang berpotensi menggerus dukungan publik, Partai Republik khawatir kehilangan kendali Kongres dalam pemilu sela November mendatang. Pemerintah berupaya mengecilkan dampak perang di tengah tekanan ekonomi domestik.
Trump menyebut perang Iran sebagai "masalah kecil" bagi AS. Ia membandingkannya dengan konflik berkepanjangan di Vietnam dan Afghanistan yang memakan puluhan ribu korban jiwa. "Banyak orang tidak menyebutnya perang. Saya menyebutnya konflik militer karena itu masalah kecil bagi kita," kata Trump kepada wartawan, dikutip dari kantor berita AFP.
"Saya rasa tidak penting apa sebutannya. Yang penting adalah fakta bahwa kita telah meraih keberhasilan besar. Kita telah menghentikan Iran memiliki senjata nuklir," ujarnya menambahkan.
Klaim Keberhasilan di Tengah Kebuntuan Negosiasi
Meski mengklaim telah menghancurkan kekuatan militer Iran dan secara efektif menguasai Selat Hormuz, realitas di lapangan menunjukkan negosiasi damai justru menemui jalan buntu. Teheran terus mengganggu lalu lintas pelayaran di jalur perairan vital dunia tersebut, yang menjadi rute utama pengiriman minyak global.
Trump juga menyebut keberhasilan AS dalam "mengambil alih" Venezuela sebagai pembanding atas aksinya di Iran. Namun, pernyataan tersebut kontras dengan laporan korban jiwa di pihak militer AS yang mencapai 18 personel selama enam bulan konflik berlangsung.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan resmi dari Pemerintah Iran mengenai ancaman serangan terbaru Trump ke Gunung Pickaxe. Militer AS sendiri sebelumnya telah melakukan "serangan berkala" ke wilayah Iran, namun Trump menegaskan bahwa "kita tidak sedang berperang saat ini".